Desember 2008 - Abi Zikri
Headlines News :

JADILAH BAGIAN DARI DAKWAH

Written By Sjam Deddy on Minggu, 28 Desember 2008 | 12.07

JADILAH BAGIAN DARI DAKWAH

Menjadi penolong agama Allah SWT, bisa dilakukan siapa saja
dengan pilihan yang sesuai dengan kemampuan. Ada yang layak menjadi kader inti,
ada yang cukup sebagai pendukung, ada juga yang hanya simpatisan.


Rasulullah saw terkejut, hari itu ia tak melihat wanita yang biasa menyapu di masjidnya, buru- buru beliau bertanya kepada para sahabatnya, ternyata wanita tersebut sudah meninggal dunia. Rasulullah saw heran dan bertanya-tanya, mengapa ia tidak diberitahu. Abu Bakar memberikan alasan, mungkin para sahabat menganggap wanita itu sepele. Ia hanya tukang sapu, Rasulullah saw minta agar ditunjukkan letak kuburan wanita itu dan Rasulullah SAW segera melakukan sholat ghaib.

Kisah ini menunjukkan bahwa sebesar apapun peranan seseorang, tak boleh diremehkan. Dalam dunia dakwah semua peran dibutuhkan, fakta sejarah menunjukkan bahwa para penolong agama Allah memiliki peran yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan dan pilihannya. Ibarat permainan sepak bola, setiap kader ada tugasnya. Besar dan kecil peranan tugas tersebut bisa berubah-ubah sesuai keadaan. Dalam satu babak, peranan penyerang (striker) mungkin lebih besar peranannya dalam mencapai kemenangan, tapi dalam keadaan tertentu, justru kiper yang menjadi penentu kalah menang- nya sebuah permainan. Selain itu tuntutan dakwahpun kadang beragam. Suatu saat dakwah mem- butuhkan ketajaman lisan, disaat lain memerlukan tenaga dan pikiran. Begitulah dakwah, karenanya para juru dakwah harus berada disemua lini. Secara umum, mereka yang berkecimpung dalam dakwah bisa menempati salah satu diantara tiga posisi.

1.Kader Inti

Mereka adalah orang-orang yang secara tulus membina dan mengkhususkan diri untuk berkecimpung dalam dakwah. Tak ada niat lain dalam segala aktifitasnya selain untuk menegakkan agama dan mencari ridlo Allah, apalagi berdakwah dengan niat dan tujuan mencari penghidupan dunia. Yang paling nyata dari karakter orang-orang ini adalah mereka bersedia melakukan transaksi hidup dan perjuangannya hanya untuk menegakkan Islam. Harta dan nyawa mereka telah ditukar dengan perjuangan menegakkan agama Allah. Merekalah yang disebutkan Allah dalam firmannya


“Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari ridlo Allah. Dan Allah Maha penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS Al Baqarah: 207).

Dalam lembaran sejarah banyak kita temukan kader inti ini. Di era Rasulullah saw, kita menemukan sosok Abu Bakar Ash Siddiq yang rela menginfaqkan seluruh hartanya untuk membiayai perang tabuk. Saad bin Abi waqqas dan Thalhah bin ubaidillah siap berdiri didepan Rosululloh saw menjadikan diri mereka sebagai tameng hidup untuk melindungi beliau. Ali bin abi Thalib bersedia menggantikan posisi “siap terbunuh”, tidur dengan selimut milik Rosululloh saw. Merekalah kader inti. Demi tegaknya Islam mereka siap mencurahkan tenaga, harta bahkan nyawa. Merekalah orang-orang yang dibeli oleh Allah SWT dengan surga-Nya. Allah berfirman

“sesungguhnya Allah telah membeli dari orang orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh....(QS At Taubah 111).
Dalam ayat lain Allah juga menegaskan janji para kader inti terhadap Allah, dan janji Allah terhadap mereka ,


” Diantara orang-orang mukmin itu ada orang orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah maka diantara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya” (QS Al Ahzab 23)


2.Kader Pendukung.

Kelompok ini adalah mereka yang mendukung perjuangan Islam, tapi keter ikatannya dengan dakwah tidak sebesar kader inti. Dalam sejarah Rosululloh saw kita temukan sosok yang perannya cukup besar tapi tidak sama dengan para kader inti. Mereka juga turut menjadi tenaga dakwah, tapi hanya pendukung. Kaab bin Malik dan dua temannya yang tidak ikut perang tabuk, tentu tak bisa disamakan dengan Abu bakar, Umar atau Ustman yang selain berkorban harta, juga ikut ke medan perang. Tentu mereka juga mendapat imbalan pahala, tapi tak sebesar yang didapat orang orang yang berada dilevel tenaga inti. Fakta ini dijelaskan oleh Allah dalam firmannya:


“tidaklah sama antara mukmin yang duduk yang tidak ikut berperang yang tidak mempunyai udzur dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang orang yang duduk satu derajat. Kepada masing masing mereka Allah menjanjikan phala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang orang yang berjihad atas yang duduk dengan pahala yang besar. (QS Annisa’ 95).

Dalam sejarah kita temukan sosok sosok seperti ini, diantaranya Utbah bin Usaid yang lebih dikenal dengan Abu bashir, ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah, Abu Bashir yang sudah masuk Islam masih berada di Makkah, beberapa saat setelah perjanjian, Abu Bashir datang ke madinah. Sesuai isi perjanjian, penduduk yang datang ke Madinah harus dikembalikan. Untuk itu Abu Bashir harus segera dikembalikan ke Makkah. Namun Rasulullah saw tetap menepati isi perjanjian, beliau melarang Abu Bashir tinggal di Madinah. Namun Abu Bashir juga tak mau kembali ke Makkah. Ia menetap di daerah Ish, pesisir pantai. Disanalah Abu Bashir menghimpun kekuatan yang jumlahnya mencapai tujuh puluh orang. Kelompok Abu Bashir ini jelas merepotkan kafir quraisy. Tindakan Abu Bashir dan kawan kawannya itu berada diluar perintah Rasulullah saw. Mereka tak terikat secara struktural dan tanggung jawab kepada Rasulullah saw. Mereka bergerak sendiri dan punya gaya dakwah sendiri, inovasi gerakan dakwah merekapun bebas, kelompok ini bisa menjalin kerja sama dengan siapapun dan bergerak disektor dan wilayah mana saja. Merekalah kader lepas yang tidak berada dibawah kontrol Rasulullah saw. Peranan kader ini tak bisa diabaikan. Anggapan yang keliru adalah menilai orang yang tak tergabung dalam ikatan struktural bukan sebagai bagian dari aktivis dakwah. “Mereka bukan golongan kita,” demikian ungkapan yang sering terdengar. Padahal peranan juru dakwah lepas ini tak kalah besar. Dengan status mereka yang tak terikat dalam struktural tertentu membuat gerakan dakwah lebih leluasa dan mudah diterima oleh siapapun. Tentu orang yang tergabung dalam kader tidak terikat ini tak boleh juga berbuat diluar batas kewajaran. Karenanya koordinasi antara dua kelompok ini tetap harus dijaga. Dengan demikian tak muncul salah paham atau benturan dalam menghadapi objek dakwah, kader akan lebih mudah menyebar disetiap sektor masyarakat. Meski peranan mereka tak sebesar kader inti, tapi keberadaan kader pendukung tidak bisa disepelekan. Dalam lingkup sekarang kita temukan banyak kader pendukung yang hanya mampu memberikan peranan dengan menyumbangkan dana, tanpa terjun ke medan dakwah. Keberadaan orang-orang ini jelas tak bisa disamakan dengan kader inti, dimana mereka menyumbangkan dana, meluangkan waktu dengan meninggalkan anak dan istri, demi terjun ke medan dakwah. Seperti Abu Bakar, kendati telah menyum- bangkan seluruh hartanya, ia tetap terjun ke medan Tabuk.


3.Simpatisan.

Mereka adalah orang orang yang memiliki kemampuan hanya dengan menjadi simpatisan atau supporter dakwah. Karena alasan tertentu orang-orang tersebut tak bisa memberikan konstribusi besar bagi dakwah. Meski peranan mereka kecil, tapi keberadaan mereka tidak bisa diabaikan. Buktinya ketika mengetahui wanita yang biasa membersihkan masjidnya, meninggal, Rosululloh saw menyesalkan sikap para sahabatnya yang tak memberitahukannya, lantaran menganggap sepele pekerjaan wanita itu.

Juga ketika menghadapi tokoh quraisy yang meminta agar Rasulullah saw mengusir para pengikutnya yang miskin, Allah segera menurunkan firmannya,


”Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang orang yang menyeru Tuhan dipagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini. Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat kami, serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaannya itu melampaui batas. (QS Al Kahfi: 28).

Dibanding kader inti dan pendukung dakwah, wilayah kader simpatisan ini tak terbatas. Bahkan ia bisa berasal dari luar Islam. Sosok Abu Thalib termasuk kelompok ini. Peranannya dalam melindungi Rasulullah saw dan dakwah Islam sendiri cukup besar. Begitupun sosok Amir bin Fuhairah al Uraiqith, penunjuk jalan Rasulullah saw ketika beliau dan Abu Bakar hijrah ke madinah. Tokoh seperti Muth’im bin Aad juga tak kalah besar peranannya dalam melindungi Rasulullah saw dan para sahabat dari ejekan, hinaan dan penindasan kafir quraisy. Tentu peranan mereka tak bisa disamakan dengan kader inti dan pendukung. Tapi kaum muslimin, khususnya juru dakwah, lebih lagi mereka yang bergelut didunia politik, harus mampu memanfaatkan tenaga ini. Tak sedikit mereka yang jauh dari Islam, tapi memberikan konstribusi pada perjuangan Islam. Bahkan dalam tataran perjuangan politik, kader simpatisan ini justru harus diperluas dan tak boleh dibatasi. Dalam lingkup ini, tak ada syarat yang mengikat seseorang untuk menjadi kader simpatisan kecuali kesediaannya memberikan konstribusi terhadap perjuangan. Selanjutnya, tugas juru dakwah adalah membina para simpatisan ini untuk direkrut menjadi kader pendukung dan kader inti. Kuantitas antara ke tiga bentuk elemen dakwah ini harus ideal. Jumlah simpatisan harus lebih banyak dari kader pendukung. Jumlah kader pendukung harus lebih banyak dari kader inti dengan demikian kualitas dalam kaderisasi tetap bisa dijaga.

DIMENSI KEIKHLASAN IBADAT HAJI dan IDUL QURBAN

"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah"
(QS. Ali Imran, 3:97)
Ibadat Haji dan Kain Ihram
RATUSAN ribu, bahkan jutaan manusia muslim, hari-hari ini telah berkumpul di wilayah kota suci Mekkah. Mereka datang ke sana sebagai memenuhi panggilan Allah s.w.t. untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka berpakaian seragam putih-putih, datang dari segenap pelosok duni, berbeda-beda warna kulitnya, bahasanya, kebangsaannya dan status sosialnya (QS. Al-Haj,22:27).
Sejak mereka meninggalkan tanah air menuju Mekkah, segala atribut keduniaan telah mereka tinggalkan. Apakah itu atribut yang berupa pakaian kedinasan, bintang kehormatan, gelar kesarjanaan dan lain sebagainya. Di sana tak ada lagi diskripsi kerena perbedaan golongan, jenis, pangkat, suku ataupun ststus sosial. Yang ada hanyalah pertujukan secara komunal kebrsamaan dan yang memegang peranan dalam pertunujkan ini adalah masing-masing pelaksana ibadah haji tersebut. Setiap orang diantara mereka dipandang sama. Suasana klimaks dan puncak pelaksanaan ritual dan seremonial ibadah haji ini, adalah pada tanggal 9 Dzul-Hijjah, ketika mereka melakukan wukuf di padang Arafah. Tanpa wukuf di Arafah ini, seseorang tidak dianggap sah idadah hajinya. Rasulullah s.a.w.menegaskan dalam sabdanya :
"(Ibadah) haji ini adalah wukuf di Arafah"
Suasana klimaks selanjutnya ialah pada tanggal 10 hingga 13 Dzul-Hijjah, yakni ketika mereka mabit di Muzdalifah, melontar jumrah di Mina, dan melaksanakan thawaf ifhadah dan sa’I di Masjidil Haram di Mekkah.
Pakaian dipakai saat wukuf di Arafah dan melempar jumrah Aqabah di Mina, hanyalah kain ihram, yakni dua helai kain putih yang tak berjahit yang satu helai diselendangkan di bahu sebelah kiri, dan yang satu lagi dililitkan dipinggang sebagai sarung. Kenapa pakaian yang mereka bawa dari tanah air diganti dan dilepas? Karena pada lazimnya, pakaian mewarnai watak manusia. Pakaian dapat melambangkan pola, pangkat, status dan perbedaan tertentu. Pakaian telah menciptakan batas-batas palsu yang menyebabkan timbulnya perbedaan dan perpecahan. Dari perpecahan ini biasanya timbul adan lahirlah diskriminasi, dan selanjutnya munculnya konsep aku bukan lagi kita. Aku dipergunakan dalam konteks-konteks seperti suku-ku, golongan-ku, kedudukan-ku, keluarga-ku, kelompok-ku. Aku berbeda dengan kamu, aku lebih super dari kamu, aku lebih hebat dari kamu. Semuanya adalah aku sebagai individu yang sombong, congkak, takabur, adigang-adigung-adiguna, bukan lagi aku sebagai manusia.
Dalam konteks inilah, maka setiap pelaku ibadah haji ini, sewaktu melaksanakan prosesi haji harus melepaskan pakaian kotor mereka, yakni pakaian kesombongan, pakaian kekejaman, pakaian penindasan, pakaian penipuan, pakaiankelicikan dan pakaian perbudakan, yang kesemuanya melambangkan watak dan karakter mereka. Dan kini yang harus mereka pakai hanyalah kain ihram, berwarna putih yang melambangkan kesucian dalam rangka melanjutkan perjalanan menuju Allah, mencari makna hidup untuk menjadi manusia seutuhnya.
Hikmah Ibadah Qurban
SETIAP ibadah pasti ada hikmahnya, meskipun tidak semua orang dapat mengetahui hikmah tersebut melalui penalaran akal pikirannya. Hanya Allah sendiri yang mengetahui rahasia dan hikmah seluruh ajaran agama yang diturunkan-Nya. Hikmah-hikmah Allah sendiri tersebut ada yang diungkap dalam kitab suci Al-Quran atau sunnah Rasul, ada pula yang tidak disinggung sama-sekali. Bagian hikmah yang tidak disinggung ini, hanya dapat diketahui dan dihayati oleh kalangan tertentu, yang dalam Al-Quran dinamakan Arrasikhuuna fil-‘ilmi, yakni mereka yang kuat imannya dan kelebihan ilmu oleh Allah, yang tidak diberikan kepada orang lain (QS Ali Imran, 3:7)
Di antara hikmah ibadah Qurban, ialah untuk mendekatkan diri atau taqarrub kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah dilimpahkan-Nya yang jumlahnya demikian banyak, sehingga tak seorangpun dapat menghitungnya (QS Ibrahim, 14:34). Hikmah secara eksplisit dan tegas tentang ibadah qurban ini, telah diungkapkan dalam Al-Quran:
"… maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta)dan orang yang minta.
Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu,
Mudah-mudahan kamu bersyukur" (QS Al-Haj, 22:36)
Hikmah selanjutnya adalah dalam rangka menghidupkan sunnah para nabi terdahulu, khususnya sunnah Nabi Ibrahim, yang dikenal sebagai Bapak agama monoteisme (Tauhid), Ibadah qurban berasal dari pengurbanan agung yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap puteranya yang emenuhi perintah Allah. Allah sangat menghargai dan memuji pengurbanan Nabi Ibrahim yang dilandasi oleh iman dan takwanya yang tinggi dan murni, kemudian megganti puteranya Ismail yang akan dikurbankan itu dengan seekor hewan domba yang besar (QS Ash-Shaffat, 37:107).
Dan hikmah berikutnya adalah dalam rangka menghidupkan makna takbir di Hari Raya Idul Adha, dari tgl 10 hingga 13 Dzul-Hijjah, yakni Hari Nasar (penyembelihan) dan hari-hari tasyriq. Memang Syari-at agama kita meng gariskan, bahwa pada setiap Hari Raya, baik Idul Fitri ataupun Idul Adha, setiap orang Islam diperintahkan untuk mengumandangkan takbir. Hal ini memberikan isyarat kepada kita, bahwa kebahagiaan yang hakiki, hanya akan terwujud, jika manusia itu dengan setulusnya bersedia memberikan pengakuan dan fungsi kehambaannya di hadapan Allah s.w.t. dan dengan setulusnya bersaksi dahwa hanya Allah sajalah yang Maha Besar,Maha Esa, Maha Perkasa dan sifat kesempurnaan lainya.
Kebahagiaannya yang sebenarnya akan tercapai, apabila manusia menyadari bahwa fungsi keberadaannya didunia ini hanyalah untuk menjadi hamba dan abdi Allah, bukan abdi dunia, ataupun abdi setan (QS Al-Dzarriyat, 51:56)
Di samping itu semua, Hari Raya Qurbanpun merupakan Hari Rayayang berdimensi sosial kemasyarakatan yang sangat dalam. Hal itu terlihat ketika pelaksanaan pemotongan hewan yang akan dikorbankan, para mustahik yang akan menerima daging-daging kurban itu berkumpul. Mereka satu sama lainya meluapkan rasa gembira dan sukacita yang dalam. Yang kaya dan yang miskin saling berpadu, berinteraksi sesamanya. Luapan kegembiraan di hari itu, terutama bagi orang miskin dan fakir, lebih-lebih dalam situasi krisi ekonomi dan moneter yang dialami sekarang ini, sangat tinggi nilainya, ketika mereka menerima daging hewan kurban tersebut.
Dimensi Keikhlasan Setiap Ibadah
AGAMA mengajarkan bahwa semua ibadah hendaknya dilakukan semata-mata ikhlas karena Allah (QS Al-An’am, 6:162-163). Tak terkecuali ibadah haji dan ibadah Qurban. Karena hanya dengan niat yang terikhlalah, akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelaksanaannya dekat kepada Allah. Tanpa adanya keikhalsan hati, mustahil ibadah akan diterima Allah (QS Al-Bayyinah, 98:5)
Dalam kaitan dengan ibadah qurban, Allah menegaskan bahwa daging hewan yang diqurbankan itu tidak akan sampai kepada-Nya hanyalah ketaqwaan pelaksana qurban itu (QS Al-Haj, 22:37). Jadi Allah tidak mengharapkan daging dan darah hewan qurban itu, tetapi mental ketaqwaan ini tidak akan tumbuh di hati yang bersih dan ikhlas.
Ibadah qurban mempunyai hikmah untuk membersihkan hati agar menjadi lahan yang subur untuk tumbuhnya iman dan taqwa. Dengan demikian, dimensi keikhlasan sudah seharusnya menjadi landasan setiap amal perbuatan manusia, agar manusia mengorientasikan kehidupannya semata-mata untuk mencapai ridha Allah s.w.t. Dengan ikhlas beramal, berarti seseorang membebaskan dirinya dari segala bentuk rasa pamrih, agar amal yang diperbuat tidak bernilai semu dan bersifat palsu. Dengan keikhlasan, seseorang dapat mewujudkan amal sejati. Kesejatian setiap amal diukur dari sikap keikhlasan yang melandasinya. Dan kesediaan berqurban yang dilandasi rasa keikhalan semata-mata, dapat mengurangi atau mengekang sifat keserakahan dan ketamakan manusia untuk berlaku serakah dan tamak, namun kecenderungan itu dapat dieliminir dengan membangkitkan kesadarannya agar bersedia berqurban untuk sesamanya. Kesediaan berqurban mencerminkan adanya pengakuan akan hak-hak orang lain, yang seterusnya dapat menumbuhkan rasa solidaritas sosial yang tinggi.
Dengan syari’at qurban ini, kaum muslimin dilatih untuk menebalkan rasa kemanusiaannya, mengasah kepekaannya dan menghidupkan hati nuraninya. Ibadah qurban ini sarat dengan nilai kemanusiaan dan mengandung nilai-nilai sosial yang tinggi. Oleh karenanya orang Islam yang tidak mampu mewujudkan nilai-nilai kemasyarakatan, dianggapsebagai pendusta agama(QS Al-Ma’un, 107:1-3). Karena ibadah haji dan Idul Qurban kali ini datang di saat sebagian besar kaum muslimin sedang dalam kesulitan ekonomi, maka mari kita manfaatkan momen ini untuk mawas diri dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Fastabiqul-khairat. Maka kita berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.

Misteri

Teknologi

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Abi Zikri - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger