Juli 2010 - Abi Zikri
Headlines News :

Tokoh Islam Yang Patut di Jadikan Contoh Bagi Para Qiyadah Islam

Written By Sjam Deddy on Rabu, 14 Juli 2010 | 23.53

KESEDERHANAAN SEORANG M NATSIR



Indonesianis George McTurman Kahin pada tahun 1948 tengah berada di Yogyakarta, Ibukota Republik yang masih muda. Satu hari dia diundang datang dalam suatu acara yang dihadiri para pejabat negara. Setibanya di tempat acara, Kahin menyalami satu demi satu para pejabat yang ada. Tibalah Kahin pada seorang lelaki berusia 40 tahun yang berwajah teduh dan berkacamata bulat, dia memakai baju dan pantalon dari bahan yang amat murah dengan potongan yang amat sederhana. Ketika diperkenalkan bahwa lelaki tersebut adalah seorang Menteri Penerangan RI, Kahin terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka, lelaki yang kelak dikenalnya dengan nama Muhamad Natsir itu ternyata sangatlah bersahaya, tidak ada beda dengan rakyat kebanyakan. Apalagi dirinya mendengar jika baju itu merupakan satu-satunya baju yang dianggap pantas untuk acara-acara resmi.



Kahin mengenang, "Saya dengar, beberapa pekan kemudian, para anak buahnya di Kementerian Penerangan berpatungan membelikan Pak Menteri Natsir sehelai baju yang lebih pantas. Setelah baju itu dipakai Pak Menteri Natsir, para anak buahnya berkata, 'Nah ini baru kelihatan menteri betulan'."



Kesederhanaan merupakan prinsip hidup seorang Muhammad Natsir. Prinsip ini terus dipegangnya sejak kecil hingga menjadi pejabat negara. Dan kemudian memang terbukti, kesederhanaan inilah yang akhirnya menjadikan kekuatannya, menjadikan harga diri dan martabatnya sedemikian tinggi, dan semua orang dari berbagai kalangan menghormatinya.



Ulama Akherat dan Ulama Dunia

Kata "ulama" berasal dari bahasa Arab dan semula berbentuk jamak dari kata 'alim, yang memiliki arti orang yang memiliki ilmu atau orang yang pandai. Imam Al-Ghazali membagi pengertian "ulama" ke dalam dua kelompok besar: Ulama Dunia dan Ulama Akherat. Ghazali dan para muhaqqiq, sepakat menyebut Ulama Dunia sebagai Ulama sû'.



Berbeda dengan Ulama Akhirat, Ulama Dunia atau Ulama sû' ini adalah mereka yang menggunakan ilmunya bukan lillahi ta'ala, melainkan menggunakan ilmunya dan juga pengaruhnya untuk mencari kedudu- kan di mata umat, mencari jabatan duniawi, mengumpulkan kekayaan dunia, atau hanya mencari popularitas dan sebagainya. Ulama jenis ini adalah ulama yang lebih mencintai dunia ketimbang akherat, dan salah satu ciri yang utama adalah mereka ini lebih merasa nyaman bila berada dekat dengan penguasa ketimbang berdekatan dengan orang banyak. Untuk mencapai ambisi duniawinya, ulama dunia tidak segan-segan memanfaatkan istilah-istilah syariat atau pun memperalat hukum agama, untuk menipu umat—dan juga menipu dirinya sendiri—agar kelihatan seolah-olah apa yang diperbuatnya adalah halal.



Ulama dunia memiliki banyak harta dan sedikit menghasilkan kitab-kitab yang bermutu. Ulama dunia lebih sigap dalam melayani penguasa ketimbang melayani umatnya. Fatwa-fatwanya bersifat sementara dan sangat bercorak kekuasaan, sebab itu hampir seluruh fatwanya tidak menyentuh mata batin umatnya.



Bagaimana dengan Ulama Akherat? Ulama jenis ini adalah ulama pengikut para nabi. Waratsah al-anbiya'. Mereka berani menyampaikan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil, tanpa membedakan apakah itu disampaikan kepada rakyat biasa atau kepada penguasa. Ulama akherat tidak menyukai memutar-mutar lidah di hadapan penguasa. Banyak ulama jenis ini, karena membela dan menegakkan al-haq, mendapat fitnah dan cobaan berat, bahkan nyawa pun menjadi taruhannya. Ulama Akherat lebih menyukai berada di tengah-tengah umat ketimbang berada di tengah-tengah penguasa. Ulama Akherat lebih nyaman mengatur strategi dakwah dari masjid, bukan dari hotel atau pun gedung mewah. Ulama akherat banyak menghasilkan kitab dan menghindari kepemilikan harta dunia. Jika pun memiliki banyak harta dunia, maka dia segera menyum- bangkannya untuk orang-orang yang tidak mampu, sebagaimana Rasulullah SAW yang walau memiliki banyak harta dari hasil perniagaannya namun semuanya disumbangkan kepada kaum miskin, sedang dia sendiri hidup dalam kesederhanaan. Sangat banyak hadits yang meriwayatkan kesederhanaan, bahkan kemiskinan, beliau.



KH. Didin Hafidhudin (Republika, 7/8/08) menulis, "Salah satu faktor yang menyebabkan runtuhnya nilai-nilai perjuangan dalam dunia politik adalah saat materi menjadi tujuan utama dan gaya serta penampilan lebih diutamakan." Banyak orang-orang yang awalnya lurus menjadi bengkok bahkan patah saat mendapat cobaan harta seperti ini. Sebab itu, Thufail al Ghifari, seorang munsyid, berkata, "Selamatkan dakwah, selamatkan dakwah, selamatkan dakwah kita! Apa artinya sebuah kekuasaan jika kita telah menggadai keimanan dan aqidah kita?"

Dengan tegas, Dr. Daud Rasyid menyatakan bahayanya harta dunia dalam artikelnya berjudul 'Fitnah Harta' : "Kalau ada orang menceritakan dirinya mendambakan punya rumah mewah, kendaraan mewah, atau apa saja yang menyenangkan dari dunia, sebenarnya dia sedang menceritakan kenaifan dirinya, sekaligus menyingkap keruntuhan ma'nawiyah (jati diri)nya di hadapan orang lain... apakah pantas seorang pemimpin merangsang anggotanya untuk mengejar harta, sementara Nabi SAW menyuruh umatnya agar berhati-hati dengan harta dan dunia? Orang-orang mukmin tak perlu diajari mencintai harta. Ajaran itu justru adalah ajaran syetan. Hanya syetan yang mengajarkan cinta harta. Yang perlu diajarkan kepada orang-orang mukmin, agar tetap tabah menghadapi rintangan dalam perjuangan."



Pemahaman Islam yang lurus dan benar sangat dipahami oleh para ulama bangsa ini terdahulu. Sebab itulah, orang-orang seperti Muhammad Natsir, A. Hassan, Haji Rasul, KH. Zainal Mustofa, KH. Isa Anshary, dan sebagainya senantiasa menjaga kebersihan hati dan akidahnya dengan memalingkan wajahnya dari godaan harta dunia dan berkosentrasi mendidik umat dengan ilmu yang benar.

Sosok ulama-ulama akherat seperti Muhammad Natsir merupakan tokoh yang amat langka di "zaman edan" seperti ini. Sebab itu, dalam serial tulisan ini, Eramuslim akan memaparkan riwayat hidup dan kisah-kisah kesederhanaan seorang Muhammad Natsir, dan juga ulama-ulama akherat kita lainnya, agar kita semua bisa belajar dan meneladani sikap hidup mereka. Sekaligus bisa menghindari tipuan-tipuan yang tengah dilancarkan oleh ulama-ulama dunia. Taqlid, Tsiqoh, dan Thoat hanyalah kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, dan kepada ulama akherat, bukan kepada ulama dunia. Semoga kita tidak tertipu. Amien.



Muhamad Natsir Datuk Sinaro Panjang, demikian nama aslinya. Beliau dilahirkan pada 17 Juli 1908 di di kampung Jambatan Baukia, Alahan Panjang, masuk dalam Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Natsir merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Natsir dibesarkan dalam keluarga yang sederhana namun menjunjung tinggi ilmu pengetahuan berdasarkan ketauhidan Islam. Hal ini membentuk karakter seorang Natsir hingga dewasa dan menjadi tokoh, bukan saja tokoh nasional namun juga tokoh dunia Islam.



Dunia mengenal Natsir tidak saja sebagai intelektual Islam ternama, namun lebih disebabkan sikap rendah hati dan kesederhanaannya. Orang yang cerdas sudah banyak, orang yang pintar bersilat lidah juga banyak, dan orang yang menjadi pejabat negara juga sudah teramat banyak, namun orang yang sekaligus cerdas, pintar bersilat lidah, berilmu tinggi, ditambah lagi menduduki “jabatan basah” sebagai pejabat negara, tetapi orang itu sengaja memilih hidup dengan penuh kesederhanaan, maka orang ini tentulah luar biasa.



Seperti anak-anak Minangkabau pada umumnya, setiap hari Natsir menempuh pendidikan di dua lembaga pendidikan, pagi hari menempuh pendidikan ‘sekuler’ di lembaga pendidikan umum, dan sore hari menempuh pendidikan di madrasah. Dan pada malam harinya, selepas Maghrib, Natsir bersama anak-anak lainnya belajar mengaji di surau terdekat. Di surau itu pula Natsir belajar bahasa Arab.

Sejak anak-anak Natsir telah memperlihatkan kecerdasannya. Dia berhasil menamatkan pendidikan HIS di Padang dengan prestasi yang sangat baik sehingga mendapat beasiswa penuh dari pemerintah kolonial Belanda agar Natsir bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yakni MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Di kelas ini Natsir belajar bersama sama dalam satu kelas dengan murid-murid keturunan Belanda. Di Mulo pun Natsir berhasil lulus dengan predikat terbaik sehingga dia pun kembali mendapatkan beasiswa. Kali ini beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke AMS (Algemeene Middelbare School) di Bandung, pendidikan setara SMU untuk jurusan Sastra Barat Klasik. Di Bandung Natsir tinggal bersama tantenya yang bernama Latifah. Di AMS inilah Natsir yang telah menginjak usia 19 tahun selain mempelajari bahasa Belanda juga bahasa latin dan kebudayaan Yunani. Walau bisa mengikuti jenjang pendidikan di lembaga milik Belanda ini, Natsir ternyata memendam perasaan tidak puas disebab kan pola pendidikan Belanda tersebut banyak yang tidak sesuai dengan akidah Islamnya.



Memilih Islam

Di tahun 1930 Natsir lulus dengan peringkat terbaik dari AMS dan ditawari Belanda untuk melanjutkan studi ke Fakultas Hukum di Batavia agar mendapat gelar Mister in de Rechten, atau ke fakultas Ekonomi di Rotterdam, atau menjadi pegawai negeri dengan gaji yang sangat cukup. Namun Natsir menolak ketiga tawaran itu dan lebih memilih untuk memperdalam ilmu agama di Persatuan Islam Bandung di bawah bimbingan Ustadz A. Hassan. Sejak saat itulah Natsir menceburkan diri ke dalam kawah candradimuka gerakan Islam yang mencita-citakan Indonesia merdeka.



Bersama Ustadz. A. Hassan, M. Natsir mengelola majalah “Pembela Islam” hingga tahun 1932. Kemudian, Natsir mendirikanYayasan Pendidikan Islam di Bandung dan memimpin langsung sebagai direkturnya dari tahun 1932 hingga 1942. Sebelumnya Natsir memang telah mengikuti pendidikan diploma keguruan di kota yang sama.



Penguasaan Natsir terhadap beberapa macam bahasa asing menyebab kan dia bisa menimba ilmu dari berbagai macam literature dan dari berbagai tokoh dunia. Wawasan politik dan sejarah pun terasah dengan baik. Dalam zaman Jepang, Natsir mulai bergerak dalam bidang politik praktis dengan bergabung pada Partai Islam Indonesia dan memimpin organisasi Majelis Al Islam A’la al-Indunisiya. Organi- sasi ini kian berkibar di bawah kepemimpinan Natsir. Dalam masa itu pula lahir Majelis Syura Muslimin Indonesia atau Masyumi sebagai salah satu wadah perjuangan untuk memerdekakan Indonesia.



Bandung merupakan kota di mana Natsir memulai gerakan politik berlandaskan dakwah Islamnya. Dalam organisasi Jong Islamiten Bond Bandung yang diketuainya, Natsir bertemu dengan kawan-kawan seideologi seperti Mr. Kasman Singodimejo, Mr. Moh.Roem, dan Pra- woto Mangkusasmito. Di Bandung pula Natsir bertemu dengan Nur Nahar, seorang aktifis pandu puteri “Natipij” yang kemudian dinikahinya pada 20 Oktober 1934 dan menjadi teman pendamping hidup beliau dan perjuangan beliau sampai akhir hayatnya.

Poligami, Antara Natsir dan Soekarno

Natsir merupakan seorang Muslim yang patuh dan taat pada syariat Islam. Dalam hal perkawinan, Natsir termasuk seorang pendukung poligami. Poligami, menurut Natsir, adalah seperti apa yang dilakukan Rasulullah SAW, yakni didasari niat untuk menolong para janda korban perang yang masih memiliki anak-anak yang kecil yang harus dibesarkan atau melindungi keimanannya.



Sirah Nabawiyah telah memperlihatkan bahwa Rasulullah SAW yang berusia 25 tahun menikah dengan Khadijah yang sudah berusia 40 tahun. Usia pernika hannya hingga Khadijah meninggal dunia adalah 25 tahun, yang dijalaninya dengan monogami. Setelah Khadijah meninggal, Muhammad SAW yang sudah berusia 50 tahun menduda selama lebh kurang enam tahun dan kemudian menikah lagi dengan seorang janda berusia 70 tahun dengan 12 anak bernama Saudah. Lalu Rasulullah SAW menikah lagi dengan Zainab binti Jahsy, janda 45 tahun, dan juga dengan Ummu Salamah, janda 62 tahun. Setahun kemudian menikah lagi dengan Ummu Habibah, janda 47 tahun dan Juwairiyah, janda 65 tahun. Dari 11 isterinya yang dinikahi, hanya dua yang gadis yakni Mariyah binti Qibtiyah, hadiah dari Raja Mauqaqis, yang berusia 25 tahun, dan Aisyah, yang diminta oleh ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddqiq. Ketika menikah dengan Muhammad, Aisyah telah berusia 19 tahun, bukan 9 tahun! (baca “Muhammad SAW The Super Leader”; Dr. M. Syafii Antonio; h. 302-304).



Disebabkan memahami dengan baik dan lurus, maka walau pun menyetujui poligami dalam Islam, namun Natsir tetap setia dengan satu isteri hingga akhir hayatnya. Karena untuk menjalankan poligami, terdapat syarat-syarat teramat khusus yang tidak bisa diplintir seenaknya.



Dalam hal poligami terdapat satu episode lucu ketika Soekarno menyatakan kepada Natsir dengan terbuka bahwa dirinya tidak setuju dengan poligami, namun hal ini dibantah Natsir yang mendukung syariat poligami. Walau demikian, merupakan fakta jika Soekarno ternyata memiliki isteri banyak dan Natsir setia dengan satu isteri.



Nah, sekarang banyak orang Islam—walau tidak semuanya—yang mengambil “kebaikan” dari keduanya: menjalankan poligami yang memang dibolehkan dalam Islam, namun untuk itu mereka menikahi perempuan-perempuan muda nan molek, bahkan perawan, ikut “sunnah”nya Soekarno, dan tidak mengikuti Rasulullah SAW yang berpoligami dengan janda-janda tua, bahkan nenek-nenek, dengan bawaan anak yang banyak. Hal ini banyak dilakukan oleh pengikut madzhab “Daripada-Mendingan”.

Sejak muda api Islam telah membakar seluruh semangat hidupnya.

Dengan tegas Natsir berkata, “Pilihlah salah satu dari dua jalan: Islam atau Atheis!” Ketika di parlemen Indonesia di masa kemerdekaan, Natsir mengulangi sikap tegasnya ini tanpa sedikit pun malu atau risih, berbeda jauh dengan tokoh-tokoh Islam di masa kini yang sedapat mungkin berusaha menghindari pengucapan kata “Islam” atau bahkan ada yang sampai hati menyatakan jika perjuangan politik Islam sudah ketinggalan zaman dan bagian masa lalu.

Walau tengah duduk di pusat pemerintahan, sikap M. Natsir tidak pernah berubah: sangat tegas jika menyangkut akidah, namun lembut dalam hal hubungan sesama manusia. Terhadap para misionaris Kristen yang di masanya sangat gencar dan terang-terangan ingin memurtadkan umat Islam, Natsir dengan berani menentangnya. Juga ketika Soekarno dan para yes-man di sekitarnya menyatakan jika kemerdekaan Indonesia disebabkan oleh semangat nasionalisme, Natsir menolak keras dan menandaskan jika Islam-lah titik-tolak, penyebab, dari kemerdekaan dan kedaulaan Indonesia.



Sejarawan Islam Ahmad Mansyur Suryanegara menyatakan, “Rakyat Indonesia melawan penjajah dengan semangat jihad, teriakan mereka “Allahu Akbar!”, bukan yang lain.”



Ketika Soekarno sudah bersekutu dengan PKI, Natsir tanpa ragu melawannya walau itu berarti keselamatan jiwa dan karir politiknya terancam, Natsir sama sekali tidak perduli. Hidup bagi Natsir, dan ini harusnya juga bagi umat Islam lainnya, adalah berjuang di jalan dakwah untuk meninggikan kalimat Allah SWT, apa pun resikonya.



Dalam hal ini, lawan-lawan politik Natsir dan kaum Islamophobia sering mengungkit keikutsertaan Natsir dalam PRRI yang melawan kekuasaan Soekarno. Terkait hal tersebut, di masa tuanya, Natsir pernah menuturkan, ”PRRI itu gerakan perlawanan terhadap Soekarno yang sudah sangat dipengaruhi PKI. Melihatnya tentu harus dari perspektif masa itu. Ini masalah zaman saya. Biarkanlah itu berlalu menjadi sejarah bahwa kami tidak pernah mendiamkan sebuah kezaliman.”



Di arena Sidang, Natsir mampu berdebat dengan amat keras dengan lawan-lawan politiknya, tapi setelah itu mereka bisa makan-minum semeja di kantin dan mengobrol dengan akrab.



“Saya sebagai tokoh Masyumi biasa minum teh bersama-sama tokoh-tokoh PKI,” akunya. “Jadi kita memusatkan diri kepada masalah, bukan kepada person”, tambah Natsir. Bahkan menurutnya beberapa masalah penting bisa diselesaikan melalui pertemuan informal seperti itu.





Islam Sebagai Pedoman Pribadi dan Negara

Dalam berbagai ceramah, Natsir berkata, “Islam tidak terbatas pada aktivitas ritual muslim yang sempit, tapi pedoman hidup bagi individu, masyarakat dan negara. Islam menentang kezaliman manusia terha- dap saudaranya. karena itu, kaum muslimin harus berjihad untuk mendapatkan kemerdekaan. Islam menyetujui prinsip-prinsip negara yang benar.



Karena itu, kaum muslimin harus mengelola negara yang merdeka berdasarkan nilai-nilai Islam. Tujuan ini tidak terwujud jika kaum muslimin tidak punya keberanian berjihad untuk mendapatkan kemerdekaan, sesuai dengan nilai-nilai yang diserukan Islam. Mereka juga harus serius membentuk kader dari kalangan pemuda muslim yang terpelajar.”



Seorang M. Natsir sangat menekankan pendidikan yang benar terhadap umat Islam, agar umat Islam memiliki akidah yang benar, bersih, dan lurus, yang bertauhid, yang hanya menyerahkan wala’ atau loyalitasnya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, hanya kepada kitab suci Al-Qur’an dan Hadits, bukan kepada yang lain. Jika para pemuda Islam telah memiliki akidah yang lurus seperti itu, tauhid yang murni, maka perjuangan mereka juga akan lurus dan bersih, tidak mencla-mencle, tidak plintat-plintut, tidak mengutak-atik syariat yang ada demi kepentingan duniawi sesaat. Itu tergambar dalam buku yang ia tulis yaitu : Fiqh Da'wah.



Dalam pidatonya di depan Sidang Majlis Konstituante, 13 November 1957, M. Natsir berkata, ”Seorang sekularis tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah atau pun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam kehidupan sekarang ini belaka… Jika dibandingkan dengan sekularisme yang sebaik-baiknya pun, maka adalah agama masih lebih dalam dan lebih dapat diterima oleh akal. Setinggi-tinggi tujuan hidup bagi masyarakat dan perseorangan yang dapat diberikan oleh sekularisme, tidak melebihi konsep dari apa yang disebut humanity (perikemanusiaan). Yang menjadi soal adalah pertanyaan, ”Dimana sumber perikema- nusiaan itu?” Natsir menjawabnya sendiri, “Islam-lah sumber segala kehidupan dan keteraturan di dunia ini.”



Apa yang ditegaskan Natsir dahulu, di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini sama sekali tidak diperhatikan oleh mereka yang mengklaim sebagai “tokoh-tokoh Islam”, baik yang duduk di parlemen, di partai politik, maupun di kabinet. Malah sebagian tokoh-tokoh itu malah mulai teracuni oleh pemikiran-pemikiran sekuler dengan menempatkan pluralitas—dengan konsekuensi juga paham pluralismenya—berada di atas dan menempatkan perintah Allah SWT di bawahnya.



Bahkan untuk membohongi suara hati nuraninya sendiri, untuk menipu fitrah kemanusiaannya sendiri, ada yang memakai dalil jika Islam adalah “Rahmatan lil’alamin”. Maka tanpa malu sedikit pun mereka mulai memberikan loyalitasnya kepada kaum kufar, seolah mereka tidak pernah mendapat materi pengajian Wala wal Barra.



Padahal tidak pernah sekali pun Rasulullah SAW memberikan loyalitasnya kepada kaum kuffar. Keluarga merupakan bentuk paling kecil dari pemerintahan, bukankah Islam mengatakan bahwa pernikahan otomatis batal jika seorang perempuan Muslim ternyata menikah dengan lelaki kafir?. Demikian juga dalam kehidupan bernegara.



Sebab pangkalnya adalah masalah pembinaan atau pendidikan. Dalam wawancara dengan Jurnal Inovasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY, 1987), Natsir yang waktu itu telah berusia 79 tahun mengutarakan ada tiga unsur yaitu, masjid, pesantren, dan kampus, yang apabila dipertemukan, niscaya akan menjadi modal utama pembinaan umat maupun pembangunan bangsa dan negara, entah di bidang ekonomi, pendidikan, budaya dan sebagainya.



Sayangnya, sekarang ini tiga pilar kekuatan umat tersebut ditinggal- kan dan digantikan dengan tiga pilar lainnya: hotel, hotel dan hotel. Sebab itu tidaklah mengherankan jika ada segelintir “tokoh Islam” yang tidak malu-malu lagi melarang umat Islam untuk menghadiri kajian ilmu di sebuah masjid di Jakarta, namun menggelar dangdutan di tempat lain.



Andai saja Natsir di zaman sekarang masih hidup dan melihat semua ini, maka bukan mustahil beliau akan berkata, “Ulangilah syahadat kalian!” Seperti yang biasa dikatakan oleh sahabat Natsir, Kasman Singodimedjo, ketika melihat ada yang tidak beres dalam tokoh-tokoh umat Islam.



Muhamad Natsir adalah orang yang besar dan sulit mencari banding nya di masa sekarang. Ini diakui banyak orang, di antaranya Prof. Jimly Ashiddiqie, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi menyatakan, ”Saat ini sulit mencari tokoh yang bisa kita sebandingkan dengan Natsir. Natsir bukan pengusaha, bukan orang kaya. M.Natsir tiga kali menjadi menteri penerangan dan sekali menjadi perdana menteri, bukan untuk mencari uang atau memperkaya diri.”



George McTurman Kahin, salah seorang Amerika yang kenal dengan Natsir sempat terheran-heran dengan kesederhanaan seorang Natsir, hingga baju yang dikenakannya saat menjabat sebagai Menteri adalah baju yang penuh dengan tambalan. Dan di saat masa jabatannya habis, Natsir meninggalkan kantor kementriannya pulang menuju rumah dengan mengayuh sepeda. Mobil dinasnya langsung diserahkan saat itu juga kepada negara.



Selama menjabat sebagai menteri penerangan tiga kali, dan juga menjabat sebagai perdana menteri, kehidupan keluarga Natsir tidaklah banyak berubah. Rumahnya tetap sederhana dan pintunya terbuka bagi siapa saja yang ingin bersilaturahim. Sikap seorang Natsir ini sangat bertolak-belakang dengan orang-orang yang sekarang mengaku tokoh umat, yang setelah menjadi pejabat negara atau pejabat partai bisa mendadak kaya raya, padahal mereka tidak punya usaha lain selain pejabat partai. Dan bukan rahasia umum lagi jika kerjaan partai politik, apa pun ideologinya, tidak jauh-jauh dari jual-beli suara umat, sehingga rakyat banyak menganggap bahwa para elit partai politik sesungguhnya tidak beda dengan para pedagang, yang menjadikan suara umat atau suara rakyat sebagai barang dagangan dengan memberikan janji-janji manis saat pemilu, dan secepatnya melupakan semua itu ketika sudah berkuasa. Natsir jelas bukan tokoh umat yang seperti ini.



Salah satu peristiwa yang menunjukkan kebesaran seorang Natsir adalah saat pertemuan antara Prabowo yang telah menjadi seorang perwira dengan Muhamad Natsir. Saat iklim politik Indonesia sejak tahun 1988 telah mulai kondusif bagi dakwah Islam. Suatu hari, Prabowo, yang saat itu masih menantu Presiden Suharto, diiring sejumlah perwira Muslim hendak bersilaturahim ke kediaman Natsir di Jalan HOS. Cokroaminoto, Jakarta. Natsir yang telah tua menunggu di dalam kamarnya. Sebelum masuk ke dalam rumah, Pabowo Subianto menyempatkan diri untuk melolosi arloji dan cincin emasnya, lalu dititipkan ke ajudannya. Hal ini dilakukan Prabowo karena dia tahu jika Natsir adalah seseorang yang sangat memegang erat kesederhanaan, dan Prabowo pun sangat menghormatinya.



Apa yang dilakukan Natsir sungguh beda dengan kelakuan sebagian orang-orang yang mengklaim sebagai pemimpin umat, yang lebih sering mendatangi rumah penguasa ketimbang berjalan menyusuri pasar becek menyapa kaum mustadh’afin. Natsir tidak punya istana, namun orang-orang istana sering mendatanginya. Bukan sebaliknya.





Tauhid Yang Benar

Salah seorang sahabat dekat Natsir adalah (alm) Hussein Umar. Suatu hari tokoh Pelajar Islam Indonesia (PII) ini menegaskan kepada penulis jika salah satu pilar yang sangat dipegang Muhammad Natsir adalah keistiqomahan dalam dakwah. Bang Hussein, demikian sebutannya, berkata, “Dakwah itu merupakan sebuah proses yang panjang. Sebab itu sama sekali tidak perlu adanya sikap tergesa-gesa ingin menikmati hasil. Semua perlu proses dan kesabaran. Jangan kita bisa dijebak lagi, karena ingin cepat-cepat menuai hasil, lalu masuk dalam skenario yang justru akan menghancurkan gerakan dakwah itu sendiri.”



Bang Hussein juga mengulangi pesan Natsir kepadanya, “Umat Islam itu diwajibkan berusaha dengan sebaik mungkin, dibatasi oleh kaidah-kaidah syariat, akidah, dan keimanan. Sedangkan hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT, karena Allah-lah yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Manusia wajib berusaha, sedangkan hasilnya Allah SWT yang menentukan.”



Hal inilah yang melandasi sikap perjuangan Natsir. Walau secara pribadi dia kenal dan berteman dengan para politikus dari PKI maupun dari partai-partai Kristen, namun di dalam perjuangan politiknya, Natsir tidak pernah memberikan loyalitasnya, walau sedikit pun, kepada mereka. Natsir sangat paham jika hal tersebut, wala wal baro, termasuk dalam pilar-pilar ketauhidan. Hal ini dibuktikan dengan Partai Masyumi yang tidak pernah sekali pun mengangkat calegnya dari kalangan non-Muslim. Sangat beda dan jauh dengan yang ada sekarang.



Sikap Natsir terhadap misi pemurtadan yang dilakukan Gereja sungguh jelas. Dalam satu artikel yang ditulis Natsir (1938), yang berjudul ”Suara Azan dan Lonceng Gereja”, Natsir membuka dengan tulisan: ”Sebaik-baik menentang musuh ialah dengan senjatanya sendiri! Qaedah ini dipegang benar oleh zending dalam pekerjaannya menasranikan orang Islam. Tidak ada satu agama yang amat menyusahkan zending dan missi dalam pekerjaan mereka daripada agama Islam.” Hal ini dilakukan Natsir untuk menyikapi hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam, 25-26 Oktober 1938. Natsir sangat peduli dengan Konferensi tersebut, yang antara lain menyorot secara tajam kondisi umat Islam Indonesia. Menanggapi rencana pemurtadan tersebut, Natsir menghimbau umat Islam agar, ”Waktu sekaranglah kita harus memperlihatkan kegiatan dan kecakapan menyusun barisan perjuangan yang lebih rapi. Jawablah Wereldcongres dari Zending itu dengan kongres Al-Islam yang sepadan itu ruh dan semangatnya, untuk memperteguh benteng keislaman. Sebab tidak mustahil pula di negeri kita ini, suara adzan bakal dikalahkan oleh lonceng gereja. Barang bathil yang tersusun rapi, akan mengalahkan barang haq yang centang-perenang.!” (Pandji Islam, ed. 33-34). Natsir tidak pernah memberi loyalitas perjuangan umat Muslim ini kepada kaum kuffar dengan alasan Islam itu rahmatan lil’alamin.



Terhadap usaha-usaha pemurtadan yang dilancarkan musuh-musuh Islam, Natsir sangat tegas dan tidak kenal takut maupun kompromistis. Sekarang ini, hanya ormas-ormas Islam seperti FPI-lah yang mengikuti jejak Pak Natsir dalam membela Islam dari rongrongan kaum salib maupun kaum liberalis. Sedangkan “tokoh-tokoh Islam” yang sudah keenakan duduk di kursi empuk di DPR maupun DPRD, mereka lebih memilih diam seribu bahasa, lebih memilih aman, ketimbang membela Islam. Bagi orang-orang seperti ini, belanja di Singapura bahkan sampai ke Paris, kongkow di hotel internasional, semuanya jauh lebih nikmat, dan sebab itu harus dipertahankan terus sepanjang hayat dikandung badan, ketimbang ikut berpanas-panas ria di tengah terik matahari di jalanan seperti halnya yang dilakukan para pembela Islam.



Sekarang, sangat sulit mencari sosok pejuang Islam seperti Muhammad Natsir. Sosok seperti ini sekarang hanya bisa ditemukan di masjid-masjid kampung dan di pesantren-pesantren pedalaman. Manusia besar ini berpulang kerahmatullah pada 5 Februari 1993 di Jakarta, meninggalkan berjuta hikmah dan kisah. (Tamat/rd)

Konsep Reformasi Dalam Perspektif Ikhwanul Muslimin

Written By Sjam Deddy on Minggu, 11 Juli 2010 | 05.19

Manhaj Ishlâh wa Al Taghyîr ‘Inda Jamâ’atil Ikhwân Al Muslimîn Dirâsatan fi Rasâil al Imâm al Syahîd

(Konsep Reformasi Dalam Perspektif Ikhwanul Muslimin Studi Pembelajaran Terhadap Risalah Pergerakan Imam Syahid Hasan Al Banna)

Kata Pengantar: Ir. Muhammad Khairat Syatir

Konsep dakwah yang dibawa oleh Imam Syahid Hasan Al Banna adalah konsep dakwah yang konfrehensif dan universal, yang mencakup seluruh sisi pemahaman Islam dan mampu menjawab realitas kehidupan nyata. Ia seperti semburat fajar pagi yang menyingkap tabir pekat yang menutupi kehidupan umat Islam, ia benar-benar adalah Pembaharu Islam abad 20.

Imam Syahid mampu memadukan pemahaman terhadap nilai-nilai Al Quran dan petunjuk Rasulullah Saw. secara benar dan menyeluruh dengan pembacaan dan perenungannya yang mendalam terhadap fakta-fakta sejarah dan sunah Allah dalam menempatkan sebuah kekuasaan atau eksistensi di muka bumi, termasuk kemampuannya untuk melihat secara jeli dan saksama realitas kehidupan umat Islam, mendeteksi penyakit umat dan mengetahui sarana penyembuhannya serta skala prioritasnya.

Sebelum kedatangan Imam Syahid, sebenarnya telah banyak dilakukan upaya-upaya perbaikan dan reformasi di tubuh umat, namun upaya-upaya tersebut cenderung temporal dan berusia pendek. Beberapa diantaranya belum membawa konsep pemahaman Islam yang benar menyeluruh, atau pemahaman yang mendalam terhadap realitas kehidupan, atau tidak menjaga sunnah (ketentuan) Allah dalam proses penetapan eksistensi, atau karena terjadinya penyimpangan seiring pergantian zaman, atau karena perpindahan ke generasi berikutnya dan ia tak mampu memikulnya, atau karena reaksi-reaksi yang terbatas atau teori serta simbol-simbol hampa tanpa adanya bangunan dakwah kuat dan gerakan yang terus menerus.

Metode ilmu yang dibawa Imam Syahid sangat khas, metode tersebut mampu mengubah teori dan mimpi-mimpi menjadi kenyataan yang riil, hal ini kemudian ditopang dengan kemampuannya dalam mengorganisir dan mengatur secara baik, yang membuatnya mampu –dengan izin Allah- memimpin dan mendirikan sebuah jamaah yang membawa panji-panji Islam, dengan asas yang kuat yang tak mudah hilang dan dihancurkan.

Bangunan yang kuat dan berkesinambungan ini menunjukkan sebagian dari mahakarya Imam Syahid Hasan Al Banna. Suatu hari ia pernah ditanyakan suatu hal, “Mengapa anda tidak menulis ilmu yang luar biasa ini dan melahirkan buku-buku? Ia menjawab, “Sesungguhnya aku membina dan menciptakan para pejuang yang membawa kebenaran.”

Imam Syahid Hasan Al Banna adalah orang pertama yang menyadari kondisi realitas kehidupan umat, ia mengatahui kadar kerusakan yang didera masyarakat, serta kadar keterbelakangan yang dideritanya. Kerusakan umat tidak hanya terbatas pada runtuhnya kekhalifahan dan sirnanya persatuan umat, permasalahannya tidak hanya terbatas pada penjajahan militer tentara asing terhadap negeri-negeri muslim, atau terbatas pada kemunduran tekhnologi di segala bidang. Untuk pertama kalinya kondisi keterbelakangan umat telah sampai pada titik nadir yang sangat membahayakan. Umat dan pondasi penopangnya telah berada jauh di luar kawasan keberadaan dan eksistensinya. Permasalahannya telah sampai pada titik-titik penting dan pondasi dasar berdirinya sebuah masyarakat dan negara.

Problematika di tubuh umat tidak akan bisa dihilangkan dengan perbaikan yang parsial, atau pembenahan pada beberapa sisinya saja, atau hanya dengan melakukan reformasi di sebagian bidang-bidangnya dan dengan menggunakan suntikan-suntikan penenang; problema umat jauh lebih dalam dari semua ini. Kondisi umat telah sampai kepada lubang pertama dalam proses pembinaan dan pembelaannya, negara Islam telah sirna sama sekali, kekuasaannya yang hakiki telah hilang untuk pertama kalinya sejak pendirian negara Islam di Madinah. Oleh karena itu proyek kebangkitan dan rekonstruksi harus dimulai sesuai dengan langkah-langkah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Bermula dengan pembinaan pribadi muslim secara personal, lalu pembinaan keluarga, pembinaan komunitas muslim hingga pembinaan sebuah masyarakat, sampai akhirnya tiba pada fase penetapan eksistensi dan pendirian sebuah negara dan terus berlanjut hingga memimpin dunia seisinya.

Pengetahuan Imam Syahid terhadap kondisi realitas umat yang begitu mendalam, jelas dan terperinci, membuatnya mampu –dengan izin Allah- menciptakan sebuah konsep praktis dengan beberapa fase dan dengan tujuan dan target yang saling berkaitan, serta mengacu kepada langkah-langkah yang ditempuh Rasulullah Saw. ketika memulai dakwah Islam yang pertama dan pondasi negara yang menjadi model dan panutan.

Imam Syahid memiliki kecakapan politik dan elastisitas yang luar biasa dalam menghadapi krisis dan rencana-rencana jahat, oleh karena itu tidak ada jalan lain bagi para penyeru kebatilan selain membunuh dan melenyapkannya. Mereka lupa bahwa dakwah yang dipimpinnya akan terus berlanjut, dan sesungguhnya itu adalah dakwah Allah yang akan terus maju dan mendapat kemenangan dengan izin Allah.

Ia (Imam Syahid) –semoga Allah meridhainya-, sangat memelihara salafiyah dakwah, dengan mengikuti sunnah dan tidak membuat bid’ah, dengan pemahaman yang benar mendalam terhadap Islam dan sunnah Rasulullah Saw. Ia berkal-kali mengulang dan menegaskan hal ini di dalam risalahnya, ia menulis dalam risalahnya ‘Ila Ayyi Syai-in Nad’u an Nâs’ dengan mengatakan, “Wahai kaum, sesungguhnya kami berdakwah kepada kalian dengan Al Quran di tangan kanan dan Sunnah di tangan kiri, dan perbuatan para Salaful Ummah dari umat ini merupakan sumber kekuatan kami, kami mengajak kalian kepada Islam, nilai-nilai Islam, hukum dan petunjuk Islam.”

Dan diantara perkara yang sangat dijaga oleh Imam Syahid Hasan Al Banna dalam membangun jama’ah dan membentuk profil seorang al akh muslim adalah implementasi rukun Tajarrud (menyucikan diri) dan tidak bergantung kepada figuritas dan lembaga, namun seharusnya ikatan seorang al akh yang hakiki dan loyalitas tertingginya hanya kepada Allah -azza wajalla-.

Ketika Imam Syahid menghadiri sebuah acara besar, salah seorang peserta yang hadir berdiri menyambutnya dan mengelukan-elukan beliau –hal ini sebagaimana dilakukan kepada setiap pembesar dan pemimpin politik – namun Hasan Al Banna menolak perlakukan tersebut dan tidak mendiamkannya, ia berkata, “Sesungguhnya hari dimana diserukan nama Hasan Al Banna tidak akan pernah terjadi, seharusnya seruan kita adalah, “Allah ghayatuna (Allah tujuan kami), Al Rasul Dza’imuna (Rasulullah pemimpin kami), Al Quran Dusturuna (Al Quran pedoman kami), Al Jihad Sabiluna (Jihad adalah jalan juang kami), Al Maut fi Sabilillah asma amanina (Mati di jalan Allah adalah Cita-cita kami tertinggi), Allah Maha Besar dan pujian kesempurnaan hanya milik Allah.

Ia juga menegaskan di dalam risalah ta’lim, “Setiap orang diambil dan ditolak perkataannya, kecuali al Ma’shum Rasulllah Saw., dan setiap yang datang dari salaful Ummah –semoga Allah meridhai mereka-, yang sesuai dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah, maka kami akan menerimanya.”

Sesungguhnya sosok Imam Syahid merupakan contoh dalam hal ini. Sebagian Ikhwan mendebat dan memberikan tanggapan terhadap ide dan pemikiran-pemikirannya, sebagian yang lain berbeda atau bahkan menegurnya.

Ia juga berkata, “Sesungguhnya keikhlasan adalah dasar sebuah keberhasilan dan sesungguhnya ditangan Allah-lah semua urusan. Sesungguhnya para pendahulu kalian yang mulia tidak mencapai kemenangan kecuali dengan kekuatan iman mereka, kesucian jiwa dan kebersihan diri, serta keikhlasan hati dan amal mereka dari ikatan apapun atau pikiran. Mereka menjadikan segala sesuatu sesuai dengan nilai-nilai keikhlasan tersebut, sehingga jiwa mereka menyatu dengan akidah, dan akidah mereka menyatu dengan jiwa-jiwa mereka. Merekalah sesungguhnya gagasan itu, dan gagasan itulah mereka. Jika kalian demikian maka pikirkanlah, sesungguhnya Allah mengilhamkan kepada kalian kecerdasan dan kebenaran, maka amalkanlah dan sesungguhnya Allah membantu kalian dengan kekuatan dan keberhasilan, namun jika diantara kalian ada yang mengidap penyakit hati, yang tujuan hidupnya berpenyakit, yang kehilangan harapan dan keinginan, yang memiliki luka masa lalu, maka keluarkanlah dia dari barisan kalian, karena sesungguhnya ia adalah penghalang turunnya rahmat, yang terkurung tanpa ada taufik (petunjuk).”

Sesungguhnya Ikhwan –sebagaimana yang dibina oleh Hasan Al Banna dengan nilai-nilai Islam-, tidak mengkultuskan figur seseorang dan tidak menyembah mereka. Mereka mengetahui benar kadar para tokoh dan menempatkan mereka pada tempatnya secara wajar, dan selalu menjaga adab-adab Islam dan petunjuk Rasulullah Saw. dalam melakukan interaksi dengan para pemimpin dan imam mereka.

Imam Syahid Hasan Al Banna –semoga Allah meridhai mereka-, meyakini kebenaran jalan yang dilaluinya dan kebenaran manhaj, serta dengan pertolongan Allah –azza wajalla- terhadap dakwahya. Ia melanglang buana menyerukan agama Allah, menyadarkan jutaan manusia dari kelalaian, dan ia diikuti oleh banyak lapisan masyarakat.

Ia pernah bertemu dengan seseorang yang bertanya kepadanya, “Apakah engkau akan melihat buah kemenangan dari usaha yang engkau lakukan? Imam Syahid menjawab dengan tenang dan penuh keyakinan, “Kemenangan itu tidak akan terlihat di generasiku dan digenerasimu, tapi akan tampak di generasi yang akan datang.”

Imam Syahid memberikan perincian yang jelas tentang tugas dan peran seorang muslim serta persiapan yang harus dimiliki, ia mengatakan, (“Tugas kita adalah memimpin dunia dan memberikan petunjuk kepada manusia seluruhnya kepada aturan Islam yang benar dan ajaran-ajarannya yang tiada ajaran lain yang dapat membahagiakan manusia selain ajaran-ajarannya.”

Dakwah kita adalah, keimanan yang mendalam, kuat dan yang paling abadi ..

• Kepada Allah, pertolongan dan kemenangan dari-Nya

• Kepada pemimpin Rasulullah Saw., kejujuran dan amanahnya

• Kepada manhaj, keistimewaan dan kelayakannya

• Kepada persaudaraan, kewajiban dan kesuciaannya

• Kepada balasan, kebesaran, dan kemuliaannya

• Kepada diri mereka sendiri .. mereka adalah sebuah jamaah yang diberikan kekuatan untuk menyelamatkan dunia seisinya.”)

Imam Syahid sangat memperhatikan pemuda, dan berhasil menjadikan mereka sebagai darah segar yang mengalir di tubuh umat Islam, yang mampu membangkitkan dan menggerakkannya.

Di akhir kehidupannya, sekitar dua minggu sebelum kesyahidannya, -kondisi pada saat itu sangat genting-, salah seorang berkata, “Wahai Ustadz, banyak berita yang tersebar tentang engkau, dan tentang apa yang terjadi terhadap engkau. Imam Syahid berkata, “Apa yang akan terjadi? Apakah pembunuhan? Sesungguhnya kami mengetahui bahwa hal itu adalah kesyahidan, dan itu adalah cita-cita kami. Seseorang bertanya lagi, “Bagaimana dengan dakwah? Imam menjawab, “Aku telah menyelesaikan tugasku dan aku telah meninggalkan para rijal (pejuang) dan aku melihat mereka dengan mataku bahwa mereka benar-benar rijal, maka aku akan mati dengan penuh ketenangan, dan yang aku inginkan adalah mati sebagai syahid.” Cita-cita itu benar-benar terwujud, ia mendapatkan syahadah.

Setiap orang yang mempelajari pemikiran Imam Hasan Al Banna, maka ia akan mendapatkan bahwa pikiran-pikiran sosok ini mempunyai karakter khas yang sangat cocok dengan realita kehidupan dan mengacu kepada dasar-dasar agama, yang jauh dari sikap berlebih-lebihan (ekstrimisme) maupun sifat meremehkan. Pemikiran-pemikirannya mampu survive dan berkomunikasi dengan alam pikiran manusia dan tidak dibenci oleh jiwa, pemikiran-pemikiran yang diterima secara baik yang tidak mengenal kekerasan dan terorisme. Dasarnya berpijak kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Saw. serta amalan para ulama terdahulu yang shalih.

Imam Al Banna adalah seorang pembaharu urusan agama ini pada masa dan generasinya, ia dan para pembaharu lainnya. Ia menyerukan manusia untuk beriman kepada Allah dan kembali kepada ajaran Rasulullah Saw. Ia menempuh jalan yang pernah dijalani para ulama-ulama terdahulu. Ia menyerukan dakwahnya dan mengembalikan konsep berpikir Islami yang benar yang berasaskan kepada:

Pertama, Membebaskan akidah dari tipuan-tipuan kejumudan dan yang terkandung di dalamnya berupa khayalan dan syubhat, sebagai perbaikan penggambaran yang benar seorang muslim terhadap keberadaan alam semesta, manusia dan kehidupan, untuk mewujudkan keseimbangan dan keadilan, agar akidah (keyakinan) dapat memberikan pengaruh dalam melahirkan para pejuang, agar dapat melahirkan kembali profil muslim yang berakhlak yang pernah dibangun dan dibina Rasulullah Saw. di Darul Arqam bin Abi Arqam. Kemudian membangun dengan profil-profil ini –baik lelaki maupun wanita- batu bata yang akan menyusun sebuah keluarga yang nantinya mampu melahirkan para pejuang, yang menciptakan sebuah umat yang berdiri dia atas budi pekerti dan akhlak yang mulia sebelum ia berdiri di atas sebuah negara.

Kedua, menyucikan akal seorang muslim dari pikiran-pikiran pragmentatif terhadap Islam, karena hal itu hanya akan memperbesar perbedaan dalam masalah-masalah furu’ dan parsial, dan meniadakan pola berpikir yang universal terhadap Islam.

Ketiga, Menghancurkan kejumudan yang dialami oleh akal akibat ditutupnya pintu ijtihad, yang sebenarnya mematikan kecerdasan untuk menciptakan dan berkontribusi dan akhirnya menjatuhkannya pada lubang taklid buta yang tercela. Ini juga menghalangi umat Islam menikmati solusi-solusi konsep pemikiran dalam Islam terhadap problematika dan permasalahan kontemporer yang jauh dari alam berpikir yang banyak berbenturan dengan ketetapan prinsip-prinsip agama.

Maka untuk mengembalikan konsep berpikir yang baik dan benar, diperlukan sebuah sebuah frame pandangan yang universal terhadap Islam, -dan pandangan ini dimiliki oleh Imam Hasan Al Banna-, dan yang dimiliki oleh para pendahulunya, yaitu para pejuang yang mengambil ajaran ini dari konsep yang diajarkan Rasulullah Saw.. Dengan konsep tersebut, mereka kemudian membangun sebuah peradaban, mendirikan sebuah pemerintah, dan merekapun memimpin peradaban di muka bumi.

Ia adalah sebuah konsep yang sempurna dan universal yang mengajak saudara-saudaranya ikut bersama menjadi bagian untuk membangun sebuah jama’ah, yang memberikan darah dan jiwanya untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi, dan membuat panji-panji kejahatan menjadi hina dan tercela, demikianpula yang dilakukan oleh Imam Al Banna. Jama’ah Ikhwanul Muslimin membawa konsep pemahaman ini, dan menyeru kepadanya. Ia teguh menahan akibatnya demi menancapkan nilai tersebut di tengah masyarakat. Telah berapa banyak pejuang yang gugur demi memperjuangkannya? Imam Syahid Hasan Al Banna adalah yang terdepan dalam Jama’ah Ikhwanul Muslimin yang membuktikan pengorbanan tersebut – semoga Allah membalas apa yang telah ia berikan untuk Umat Islam dengan balasan yang sebaik-baiknya-. Telah berapa banyak darah yang ditumpahkan? Sudah berapa banyak anak-anak menjadi yatim? Telah berapa banyak wanita yang kehilangan anaknya? –Kita menabungnya menjadi kebaikan di akhirat-, Hingga pemahaman benar-benar tertancap kuat dan menjadi sesuatu yang lumrah yang tidak ada perbedaan di dalamnya, kendati dengan banyaknya fitnah dan ujian serta tersebarnya syubhat dan tuduhan-tuduhan palsu dan perbantahan. Apa yang dibawa oleh Imam Hasan Al Banna adalah sebuah pembaharuan, walaupun sebenarnya Imam Syahid hanya memperbaharui sesuatu yang lama yang hampir dilupakan.

Problematika yang dihadapi umat tidaklah sederhana seperti yang diyakini oleh sebagian orang. Apa yang telah merasuki pikiran berupa kemelut, kebingungan dan invasi pemikiran, pada gilirannya akan menghalangi terwujudnya tujuan yang hendak dicapai, dan menghalangi misi yang diemban. Permasalahan ini tidak mungkin disembuhkan dalam waktu sehari semalam, atau dengan penyampaian kuliah dari seorang pakar, atau dengan pelajaran di beberapa tempat dari seorang pemikir muslim, ataupun dengan nasehat-nasehat secara regular dari salah seorang ulama kesohor, atau dengan selebaran-selebaran yang diedarkan kemudian hilang tanpa bekas seiring berakhirnya bacaan, atau dengan buku-buku yang dihafal teks atau naskahnya. Ia sesungguhnya adalah penderitaan yang telah berlangsung lama, yang membutuhkan tarbiyah dan upaya yang keras, agar kita dapat mewarisi para rijal (pejuang) bukan mewarisi buku saja, karena kita ingin mendirikan agama yang tegak di atasnya negara dan peradaban, serta menyadarkan umat yang akan memimpin dunia.

Sesungguhnya manhaj yang mampu melahirkan para pejuang dan yang mampu memenuhi ikrarnya kepada Allah, memerlukan beberapa hal berikut,

Pemahaman yang benar (Al Fahm Al Shahih), pembentukan yang sangat cermat, keimanan, ketulusan cinta, pengorganisasian yang rapi, agar kita bisa membuat jalinan jama’ah yang di serukan Allah dengan panggilan, “wahai orang-orang yang beriman,” yaitu orang-orang yang senantiasa memiliki hubungan yang baik dengan Allah. Agar mereka menjadi ahli ibadah terlebih dahulu sebelum menjadi pemimpin, maka dengan ibadah mereka akan dihantarkan untuk memimpin dengan sebaik-sebaiknya, hal itu tentunya dilakukakn dengan manhaj yang jelas, amalan yang terus menerus, budi pekerti yang tinggi, napas yang panjang, kesabaran dengan sebaik-sebaiknya, nasehat kebaikan, diskusi yang bijak, dan kesadaran, serta evaluasi yang sangat cermat. Mengapa demikian? Karena manhaj perbaikan apapun yang digunakan untuk keperluan manusia, dan dakwah kebenaran apapun yang ide dasar dan pemahamannya tidak bersandar pada nilai-nilai ini, dan tidak mengacu pada Al Quran dan Sunnah Rasulullah Saw. maka ia adalah dakwah yang rapuh dan akan tercerabut akarnya dari permukaan bumi. Namun jikai ia menyatu dengan sumber gizi, kekuatan dan kehidupannya maka akarnya tertancap kuat dan dahannya menjulang ke langit dan akan memberikan buah di setiap waktu dengan izin Allah.

Imam Hasan Al Banna telah menjelaskan nilai-nilai ini dengan sangat jelas tanpa ada kesamaran dan keraguan, baik dari segi kejelasan ide, kesatuan pandangan dan etika, kesatuan target dan tujuan dan kesatuan visi serta kesamaan sarana prasarana mewujudkannya. Imam Hasan Al Banna mengetahui bahwa masyarakat sangat membutuhkan penjelasan pemahaman untuk merapikan gerakan, dan penjelasan pandangan untuk menyamakan barisan, serta penjelasan ide agar bisa berjalan secara benar dan mewujudkan cita-cita yang diharapkan.Kita sangat memperhatikan budaya dialog, diskusi dan bertukar pandangan .. Kami katakan kepada mereka yang menyelesihi kami,

تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ

Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu .. “ (Ali Imran: 65)

Kepada mereka yang mendebat kami, kami katakan,

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar. “ (Al Baqarah: 111)

Kepada mereka yang membangkang, kami katakan:

وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dan Sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. “ (Saba: 24)

Karena sesungguhnya syiar setiap da’i yang meyerukan agama Allah adalah,

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, ..” (Al Baqarah: 83)

Adapun para penyeru dakwah Islam yang menyelesihi kami, maka kami katakan kepada mereka, “Mari kita saling tolong menolong dalam perkara yang kita sepakati dan saling memaklumi dan memaafkan dalam perkara-perkara yang tidak kita sepakati.” Namun jika mereka mengabaikan seruan itu, maka kami akan katakan, “Semoga keselamatan selalu dilimpahkan kepada kalian dan kami tidak menginginkan apapun kecuali ikatan cinta karena Allah. “

Kajian dalam buku ini memaparkan pandangan yang jelas dan menyeluruh terhadap manhaj perubahan dan konsep merealisasikan tujuan-tujuannya. Di dalamnya juga terdapat jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang banyak diutarakan, serta penjelasan permasalahan yang banyak mengandung perbedaan, begitupula perbedaan pikiran. Ini merupakan langkah serius yang dilakukan untuk menjelaskan pandangan dan manhaj dakwah Ikhwanul Muslimin serta tujuan-tujuannya. Ini merupakan tambahan referensi yang ditulis dan diedarkan oleh civitas dakwah Ikhwan, untuk menjelaskan dakwah mereka dan menjawab syubhat-syubhat. penulisnya adalah salah seorang yang dibina dalam barisan dakwah, mengusung dan teguh di atas prinsip-prinsip jama’ah. Dan kita mengagungkan seseorang yang merupakan hak Allah.

Cairo, Ramadan 1426 H/Oktober 2005

IR. Muhammad Khairat Syathir

Wakil Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin



Misteri

Teknologi

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Abi Zikri - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger