Oktober 2010 - Abi Zikri
Headlines News :

SHOLAT TIDAK . . . . . . . SHOLAT TIDAK . . . . . .

Written By Sjam Deddy on Kamis, 21 Oktober 2010 | 19.33

Suatu saat keluar pernyataan dari adikku yang merasa tidak puas dengan perilaku tetangganya... "percuma orang itu sholat, lha wong perilakunya sering menyakiti sesama dan selalu mengecewakan orang lain, gak ada gunanya dia sholat . . . ."

Mendengar pernyataan itu saya mencoba membuka dialog agar ada pemahaman yang baik terkait dengan masalah yang menimpanya...

"Dik memang selintas seolah olah dia percuma melakukan sholat, tetapi mari kita pikirkan dua perbandingan ini "

1. Ada orang yang tidak sholat tetapi perilakunya senantiasa baik dan selalu menyenangkan orang lain, sehingga banyak orang yg simpati padanya.
2. Ada orang yg sholat tetapi perilakunya selalu menyakiti orang lain, pokoknya tingkahlakunya terhadap sesama selalu jelek, sehingga banyak orang yg tidak menyukainya


pertanyaannya siapakah diantara kedua orang itu yg lebih baik ???

Sejenak adikku agak kebingungan dengan perbandingan di atas karena kedua duanya bukan contoh yg ideal. Akhirnya saya mencoba menjelaskan bagaimana posisi keduanya

"
Orang yang pertama, dia selalu menjaga hubungan baik dengan sesama atau sesama mahluk, tetapi justru kepada ALLAH sang penguasa alam, yang menciptakan semua mahluk, yang menghidupkannya, yang memberinya rejeki, yang memberinya penglihatan, tempat tinggal dan sebagainya dia tidak menjaga hubungan baik..... sementara orang yang kedua hubungannya terhadap sesama mahluk memang tidak baik, tetapi dia menjaga hubungan baik dengan ALLAH yang memberinya kehidupan....... kesimpulannya Orang yang kedua tetap lebih baik dibandingkan dengan orang yang pertama"

sejenak adikku kurang puas dengan penjelasan saya, dan dia nyeletuk "tapi kan percuma aja orang itu sholat tapi kelakuannya seperti itu..." dengan sabar saya mencoba menjelaskan " memang semestinya orang yg sholat tidak seperti itu, tetapikan pertanyaannya mana yg lebih baik diantara keduanya........"

Dengan sedikit berpikir akhirnya adikku menerima argumentasi yang aku berikan . . . .

Saudaraku . . . .

Nabi kita bersabda "Amalan yg paling pertama di Hisab adalah sholat, jika sholat bagus maka amalan lainnya akan diperhitungkan, tetapi jika sholatnya jelek maka otomatis semua amalannya akan jelek"

Jadi tetaplah sholat meskipun kita sebagai manusia biasa, selalu melakukan kesalahan dan dosa, karena insyaALLAH sholat akan selalu menjaga kehidupan hatinurani kita sehingga kita tidak berkekalan dalam melakukan kesalahan.

Wassalamualamanittba'alhuda


BUDAYA BUKU DAN PERADABAN ILMU

Written By Sjam Deddy on Kamis, 14 Oktober 2010 | 18.37

BUDAYA BUKU DAN PERADABAN ILMU

Munculnya penemuan-penemuan saintifik di dunia Islam pada masa silam tak terbayangkan tanpa adanya budaya ilmu


Oleh: Muhammad Deden Suryadiningrat*


Dunia saat ini sedang disibukkan dengan kampanye globalisasi besar-besaran “penghilangan identitas” umat Islam. Dan yang terjadi sekarang bukanlah perang dalam bentuk kontak senjata tetapi perang dalam bentuk pemikiran. Untuk memuluskan proyek ini, salah satu cara yang dilakukan oleh Barat ialah mencuci otak pelajar-pelajar Muslim yang belajar di Barat. Bahkan saat ini jenggot, baju koko, gamis, jilbab, dan cadar selalu distigmakan sebagai “costum” teroris.


Ilmu yang hanya bersandarkan humanistik yang dikembangkan Barat saat ini, telah menghasilkan masyarakat yang kehilangan orientasi hidup. Berbeda dengan Barat, Islam memandang ilmu sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan. Ilmu dalam Islam selalu disandarkan pada pijakan theistik. Padahal dalam Islam, mencari ilmu bagi setiap muslim dan muslimat adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah, sehingga dalam sejarah Islam tidak pernah terjadi “tradegi Gereja Abad Pertengahan”, dan kebinggungan polarisasi ilmu dengan teologi.


Para Filsuf Yunani, bisa bangkit dari jeratan “mitos” menuju “logos” mengandalkan kemampuan berpikir “deduktif (umum-khusus)” yang menghasilkan pengetahuan spekulatif (kira-kira/prediksi). Sementara membawa semangat rasionalistik Yunani, Islam mampu menciptakan pola logika “induktif” lewat observasi. Sehingga pengetahuan yang didapatkan tidak lagi berupa kira-kira/prasangka, tapi sudah memasuki ranah pembuktian secara objektif di lapangan.


Satu hal yang sangat menarik bagi kita adalah originilitas pemikiran Thomas Aquinas, salah satu filsuf abad pertengahan yang dielu-elukan oleh kaum Nasrani. Pengamat pemikiran Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, MA. M.Phil, mengatakan, karya hebat Aquinas, “Summa Theologia” adalah plagiasi dari karya Al Farabi dan Ibnu Rusyd.


Dalam ajaran Islam, pencarian ilmu, ataupun penyebarannya memiliki akar yang sangat kuat Ini dapat di buktikan dengan banyaknya hadist dan ayat al-Quran yang menerangkan akan hal tersebut. Salah satu hadist yang bisa dikutipkan sebagai ilustrasi mengenai pentingnya ilmu adalah salah satu sabda Rasulullah yang menyatakan keunggulan seorang berilmu dibandingkan dengan orang yang beribadah seperti terangnya bulan purnama dan bintang-bintang.


Begitu pentingnya masalah ilmu ini, buku-buku klasik Islam --semacam kitab-kitab hadist seperti Sahih Bukhari atau Sahih Muslim atau kitab klasik Ihya Ulumuddin karangan Al Ghazali-- memulai dengan bab nya mengenai ilmu. Peran penting ilmu ini bahkan diungkapkan oleh Imam Bukhari.

Kata-kata bijak Al Ghazali bisa dikutip untuk mengilustrasikan pentingnya ilmu dalam kehidupan. Beliau mengatakan, “Orang-orang yang selalu belajar akan sangat dihormati dan semua kekuatan yang tidak dilandasi pengetahuan akan runtuh.”


Seorang ulama kontemporer, Yusuf Qaradawi, mengungkapkan bahwa ilmu merupakan pembuka jalan bagi kehidupan spiritual yang terbimbing, ilmu merupakan petunjuk iman, penuntun amal; ilmu juga yang membimbing keyakinan dan cinta. Dalam risalahnya mengenai prioritas masa depan gerakan Islam, beliau menempatkan prioritas sisi intelektual dan pengetahuan melalui pengembangan fiqh baru sebagai prioritas awal.

Ilmu dan Peradaban

Konsep ilmu pengetahuan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam tubuh peradaban dan mengairi segi-segi peradaban Islam. Peradaban Islam, sebagaimana terwujudkan dalam sejarah klasiknya, dapat diidentikkan dengan kejayaan pengetahuan, sebagaiman seorang orientalis, Franz Rosenthal, memberi judul bukunya mengenai deskripsi dan peran pengetahuan dalam peradaban Islam sebagai, ‘The Knowledge Triumphant: The concept of Knowledge in Medievel Islam’.


Pada tulisan yang lain dia mengungkapkan, “Sebuah peradaban muslim tanpa pengetahuan tidaklah terbayangkan oleh generasi muslim pertengahan.”


Tetapi ada juga serangan yang menyudutkan umat Islam, dengan mengatakan “tradisi ilmiah dalam Islam mundur dikarenakan pemikiran dan karya-karya Al-Ghazali”. Padahal menurut ucapan ini merupakan pendapat orientalis yang salah memahami pemikiran Al-Ghazali.


Pengarag Ihya ‘Ulumuddin ini sebenarnya mengkritisi pandangan Ibnu Sina yang mengatakan “ilmu yang rasionalistik tidak perlu dijustifikasi lewat kebenaran teologis”. Pandangan Ibnu Sina ini mempengaruhi Ibnu Rusyd, sehingga lahirlah “double truth” yang saat kemudian dalam tradisi Nasrani dan modern terpolarisasi menjadi “kebenaran Tuhan” dan “kebenaran ilmiah”.


Prof Wan Moh. Nor Wan Daud pernah mengungkapkan bahwa pencapain-pencapaian peradaban Islam dahulu amat sangat terkait dengan adanya budaya ilmu di dalamnya, dan hal ini sudah tercatat dalam sejarah. Dari perspektif sejarah Wan Daud mengungkapkan bahwa sebuah bangsa yang kuat tetapi tidak ditunjang oleh oleh budaya ilmu yang baik, akan mengadopsi ciri dan kekhasan bangsa yang ditaklukkannya tetapi memiliki budaya ilmu yang baik. Bangsa Tartar yang mengobrak-abrik peradaban Islam di Baghdad dahulu kala justru malah terislamisasikan. Selanjutnya beliau menyebutkan budaya ilmu ini bisa dicirikan dengan terwujudnya masyarakat yang melibatkan diri dalam kegiatan keilmuan, ilmu merupakan keutamaan tertinggi dalam sistem nilai pribadi dan masyarakat. Munculnya penemuan-penemuan saintifik atau kemajuan teknologi di dunia Islam pada masa silam tidaklah terbayangkan tanpa adanya budaya ilmu yang menggerakkannya, karena pencapaian-pencapaian itu adalah manifestasi dari budaya ilmu tersebut. Syed Husein Alatas mengembangkan konsep “bebalisme” secara sosiologis terhadap kebiasaan, tradisi atau budaya anti-ilmu, anti-pembahasan, anti-penalaran dalam sebuah masyarakat.


Dalam abad modern ini dimana kebangkitan umat (resurrection people) didengungkan pembinaan budaya ilmu merupakan keharusan. Satu sisi yang juga bisa diberikan apresiasi dari budaya Ilmu dalam peradaban islam adalah penggunaan medium buku sebagai sarana penyebaran pengetahuan di dunia Islam. Lembaga penulisan buku –waraq–, perdagangan buku, perpustakaan – baik pribadi maupun lembaga kenegaraan– , sangat berkembang di dunia Islam ketika itu. Sebagaimana juga munculnya lingkaran studi di mesjid-mesjid, diskusi ilmiah di istana-istana penguasa, atau munculnya lembaga-lembaga pengajaran dari tingkat dasar hingga univesitas (kulliyah).

Di zaman klasik, setiap kota besar di dunia Islam memiliki bazaar buku masing-masing, suq al waraqa. Aktivitas para pedagang buku tidak semata-mata menjualbelikan buku, tetapi toko-toko mereka juga berperan sebagai tempat-tempat diskusi. Sebuah karya indeks mengenai buku-buku di dunia Islam sudah ada di masa itu. Al Fihrist, sebuah karya yang terkenal dikalangan sejarawan dikarang oleh Ibn Nadim seorang pedagang buku. Kajian mengenai penyebaran buku di dunia Islam juga bisa kita lihat dari karya seorang orientalis Denmark, J Pedersen dalam bukunya “Fajar Inteletualisme Islam.

Penulis adalah Koordinator Kajian Centre for Islamic and Occidental Studies (CIOS) ISID Gontor

DI MANA RAHMATMU WAHAI AKTIVIS DAKWAH ?

Written By Sjam Deddy on Senin, 11 Oktober 2010 | 18.08

Beberapa hari yang lalu seorang dosen yang mengajarkan fiqh berkata di kelas (dalam bahasa Arab, yang maknanya kurang-lebih): “Selama shalat di beberapa masjid di negeri ini, saya sering mendapatkan “keanehan-keanehan”yang tidak saya dapati di negeri saya, saya pernah shalat jumat di suatu masjid, sesak dada saya, melihat alangkah banyaknya sunnah-sunnah yang terlalaikan (dan justru bid’ah-bid’ah yang dikerjakan), sejak awal khutbah sampai shalatnya..” Beliau menyebutkan beberapa contoh yang saya tidak bisa mengingatnya lagi. Akan tetapi ada beberapa contoh yang masih saya ingat. “Ketika khotib berdoa, para hadirin mengaminkan dengan suara yang sangat keras ‘Amiiiin, amiin!’ sehingga membuat bising di telinga dan menghilangkan kekhusyukan khutbah jumat. ” Kami tersenyum mendengar ceritanya.

Lalu beliau melanjutkan lagi, “Begitu juga ketika shalat Jumat dimulai, shaff para makmum benar-benar tidak teratur, sebagian makmum agak maju dari shaff makmum lainnya dan yang lain lagi malah agak mundur. Itu “keanehan-keanehan” yang saya saksikan, bahkan saya pernah shalat di suatu masjid, tidak satu pun sunnah nabi yang dikerjakan sama sekali. “ Kami tertawa, akan tetapi beliau malah berkata, “Kita tidak memperolok-olok mereka. Wallahi ya ikhwah, jangan kita memandang mereka (orang awam) dengan pandangan yang meremehkan atau memandang rendah posisi mereka, kemudian memandang diri kita sendiri lebih mulia dari mereka, karena lebih mengerti sunnah dan lebih mengerti agama dan ..dan..hendaknya kita memandang mereka dengan pandangan peduli dan kasih sayang, karena mereka juga saudara-saudara kita."

Subhanallah! Perkataannya betul, ini memang penyakit dari sebagian aktivis dakwah dan orang yang sudah belajar agama: suka memandang remeh orang-orang yang “di bawah mereka” dan menganggap diri-diri mereka sebagai makhluk paling mulia dibandingkan selain mereka yang “awam”,”bodoh”, dan “jahil” dan lain-lain.

Beliau juga mengingatkan agar jangan pula sekali-kali kita mencela pelaku maksiat dan menganggap rahmat Allah jauh dari mereka, “Bukankah di zaman nabi صلى الله عليه وسلم dulu ada seorang yang berulang kali dicambuk karena diketahui meminum khamr, sampai-sampai karena seringnya membuat seorang sahabat nabi “tak tahan” untuk mencelanya, akan tetapi nabi صلى الله عليه وسلم malah berkata, ‘Jangan berkata begitu, sesungguhnya ia mencintai Allah dan rasul-Nya ?! “

Subhanallah! Betul pula perkataannya. Kenapa kita tergesa-gesa untuk menghukum saudara-saudara kita yang masih shalat dan ber-KTP islam yang terjatuh kepada perbuatan maksiat kalau mereka itu tak akan menjadi orang baik? Mengapa kita seolah-olah menutup surga untuk mereka? Apakah kita tahu bagaimana hidup mereka di masa depan? Bagaimana kalau mereka kelak bertaubat , sehingga menjadi orang yang baik dan senantiasa berbuat kebaikan, sehingga kebaikan mereka justru jauh melebihi kebaikan kita?

Beliau juga mengingatkan lagi tentang kasih sayang terhadap orang awam yang jauh dari agama sehingga terjatuh ke bid'ah, “Dan jangan sampai kita ‘melecehkan’ keadaan mereka. Karena bisa jadi, dikarenakan ketulusan dan keikhlasan hati mereka, Allah ampuni kesalahan-kesalahan mereka yang terjadi akibat kebodohan mereka terhadap agama kemudian memasukkan mereka ke surga , sedangkan kita, bisa jadi karena ‘ujub, riya’, sombong, merasa paling mulia, malah Allah campakkan ke neraka. “ wal’iyadzubillah.

Karena itu, untuk para aktivis dakwah dan orang-orang yang telah diberi anugerah Allah berupa hidayah mengenal dakwah dan tarbiyah, sesuatu yang tidak didapatkan oleh orang-orang selain mereka: ketahuilah, sesungguhnya nikmat hidayah yang telah kalian rasakan selama ini adalah semata-mata karunia dari Allah, bukan karena kecerdasan, “kecemerlangan” atau kerja keras kalian.

Seandainya Dia mencabut karunia itu dari kalian, maka apakah kalian bisa mengembalikannnya? Karena itu bersyukurlah kepada-Nya dan berendah hatilah terhadap hamba-hamba-Nya, kasihi dan sayangilah mereka, sebagaimana kalian suka dikasihi dan disayangi.

Bimbinglah mereka menuju hidayah-Nya dan antarkanlah mereka menuju rahmat-Nya, sebagaimana kalian suka dibimbing dan diantarkan menuju rahmat-Nya.

Anung Umar

CEK KEMAMPUAN KONTROL DIRI ANDA!

Written By Sjam Deddy on Jumat, 01 Oktober 2010 | 19.04

TIAP orang memerlukan kebebasan untuk menjadi kreatif dan mengaktualisasi diri. Di sisi lain, kendali dari dalam diri diperlukan sebagai regulasi atas dorongan dan kemampuan yang dimiliki, baik secara fisik, psikis, maupun perilaku.

Bertindak tanpa pikir panjang merupakan ciri khas yang melekat pada anak-anak. Mereka bertindak spontan. Bila sakit mereka akan menangis di mana saja, kapan saja, dan dalam situasi apa saja. Bila gembira, anak yang sehat akan berlarian, mencoret-coret, berteriak-teriak girang, atau melakukan apa pun yang ia inginkan.

Bayangkan bila perilaku semacam ini dilakukan oleh remaja atau orang dewasa. Tentu saja cukup aneh. Kita akan merasa sangat terganggu bila menemukan seseorang yang bukan lagi anak-anak bertindak sesuka hati, membiarkan dorongan-dorongan atau keinginan yang bersifat egoistis termanifestasi begitu saja.

Semakin bertambah usia seseorang, ia diharapkan semakin memiliki kendali atas perilakunya sendiri. Dengan kata lain, semakin mengembangkan kemampuannya mengontrol diri.

Kendali/kontrol diri (self-control) adalah pengaruh atau atau regulasi seseorang terhadap fisik, perilaku, dan proses-proses psikologisnya (Calhoun & Acocella, 1990). Ini merupakan hal yang sangat penting dalam hidup seseorang. Mengapa?

Pertama, kontrol diri berperan dalam hubungan seseorang dengan orang lain. Hal ini tidak lepas dari kenyataan bahwa kita tidak hidup sendirian, melainkan di dalam kelompok, di dalam masyarakat. Padahal, kita memiliki kebutuhan pribadi seperti makanan, minuman, kehangatan, dan sebagainya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut kita perlu mengendalikan diri sedemikian rupa, supaya tidak mengganggu orang lain.

Kedua, kontrol diri berperan dalam pencapaian tujuan pribadi. Setiap orang, dari budaya mana pun, selalu berharap mencapai tujuan tertentu dalam hidupnya. Contohnya, tujuan untuk memiliki kompetensi tertentu, mencapai kematangan pribadi, dan sebagainya, sesuai dengan standar yang ada dalam masyarakat.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut kita perlu belajar dan berusaha terus-menerus, dan mengendalikan diri dengan menunda pemuasan kebutuhan-kebutuhan sesaat demi mencapai tujuan jangka panjang.

Dengan mengembangkan kemampuan mengendalikan diri sebaik-baiknya, kita akan menjadi pribadi yang efektif, sehingga dapat secara konsisten merasa bahagia, bebas dari rasa bersalah, hidup lebih konstruktif, dapat menerima diri sendiri, dan juga diterima oleh masyarakat.

Kontrol Internal dan Eksternal

Semakin bertambah usia, seseorang diharapkan untuk semakin mengembangkan kemampuan mengendalikan perilakunya. Dari mana sumber kontrol perilaku seseorang? Sumbernya dapat dibedakan menjadi dua: faktor di dalam dan di luar diri seseorang.

Kontrol perilaku yang bersumber dari dalam diri biasanya disebut sebagai kontrol internal, dan yang bersumber dari luar diri disebut kontrol eksternal. Dalam kontrol diri (internal), individu mengatur perilaku dan standar kinerjanya sendiri; memberi ganjaran bagi dirinya sendiri bila berhasil mencapai tujuan; dan menghukum dirinya sendiri bila tidak berhasil mencapai tujuan.

Di sisi lain, dalam kontrol eksternal, individu menempatkan orang lain sebagai penentu (yang menjadi penyebab) perilaku, standar kinerja, dan ganjaran-ganjaran yang diperolehnya.

Dari dua jenis kontrol perilaku tersebut, kontrol pribadi (internal) dinilai lebih berharga. Sepanjang kita menggantungkan diri pada kontrol eksternal, kehidupan kita sebagian besar ditentukan oleh orang lain. Sebaliknya, dengan mengembangkan kontrol diri (internal) berarti kita mengendalikan dua hal: diri sendiri dan dunia sekitar kita.

Problem Pengendalian Diri

Seperti telah dijelaskan di atas, kontrol diri yang berkembang dengan baik akan memberikan banyak keuntungan bagi seseorang. Namun, dalam kenyataan, tidak semua kita mampu melakukan pengendalian diri secara konsisten.

Kemampuan pengendalian diri kita bervariasi. Ada orang yang sering terlalu banyak minum (hingga mabuk), yang lain terlalu banyak makan, yang lain lagi mudah kehilangan kontrol emosi, cenderung menunda pekerjaan, dan sebagainya. Bagaimana hal ini dapat terjadi?

Seperti halnya kontrol diri yang kuat, kontrol diri yang lemah juga berkembang melalui proses belajar. Contohnya, seorang remaja yang tetap impulsif, yakni selalu marah bila keinginannya tak terpenuhi, kemungkinan menjadi demikian karena sejak kecil orangtuanya selalu menuruti segala permintaan (berfungsi sebagai ganjaran) setiap kali anaknya itu merengek meminta sesuatu, terlebih-lebih bila anaknya mulai marah.

Ketika pola ganjaran semacam ini terjadi berulang-ulang, berarti si anak mengalami proses pembelajaran bahwa permintaannya pasti terpenuhi bila disertai marah. Selanjutnya ia mengembangkan pola perilaku marah setiap kali permintaannya belum terpenuhi.

Seseorang yang memiliki kebiasaan menunda pekerjaan, mungkin menjadi demikian karena sejak kecil terbiasa bekerja dalam tekanan orangtua (berfungsi sebagai hukuman). Dalam situasi demikian ia termotivasi melakukan tugas hanya untuk menghindari hukuman. Akibatnya, dalam situasi tanpa adanya tekanan, ia cenderung bermalas-malasan.



Sumber : forbes

Misteri

Teknologi

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Abi Zikri - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger