Maret 2011 - Abi Zikri
Headlines News :

KENANGANKU BERSAMA IKHWANUL MUSLIMIN

Written By Sjam Deddy on Senin, 21 Maret 2011 | 20.24

Kepiawaian Syaikh Yusuf al-Qaradhawi sebagai ulama yang penulis sudah tidak diragukan lagi. Berbagai literatur fiqihberkualitas tinggi telah lahir dari tangannya, sebutlah misalnya – yang beredar di Indonesia – seperti Fiqh Zakat dan Fiqih Prioritas. Akan tetapi, selain buku-buku fiqih yang disusun secara sistematis itu, Syaikh al-Qaradhawi juga memiliki sejumlah karya fenomenal yang ‘lain daripada yang lain’.

Buku Kenanganku Bersama Ikhwanul Muslimin memang berbeda. Karena buku ini merupakan semacam memoar atau jurnal perjalanan, maka penuturannya begitu hidup, bahkan menggairahkan! Kita seolah-olah bisa merasakan betapa besarnya semangat dakwah Syaikh al-Qaradhawi ketika beliau menceritakan perjalanan dakwahnya dari Thanta ke Kfar Syaikh. Saat itu, beliau hanyalah seorang mahasiswa sederhana dengan uang yang sangat pas-pasan untuk pulang-pergi dalam perjalanan tersebut. Ikhwah dari Thanta mengira transportasi akan ditanggung ikhwah Kfar Syaikh, sedangkan ikhwah Kfar Syaikh justru mengira ikhwah Thanta telah membekalinya dengan dana yang cukup. Namun beliau justru terdampar di tengah jalan tanpa uang sama sekali dan perut yang kelaparan karena baru berbuka shaumdengan minuman, bertekad untuk menempuh jarak 11 kilometer dengan berjalan kaki karena tak ingin merepotkan siapa pun. Kemudian Allah menurunkan pertolongan, sehingga perjalanan yang penuh berkah itu berakhir dengan penuh kebahagiaan.

Meskipun buku ini sarat dengan kisah bahagia – dan Syaikh al-Qaradhawi memang menyatakan sendiri kebahagiaannya mendapatkan kesempatan untuk hidup sebagai bagian dari jamaah Ikhwanul Muslimin – namun daya tariknya justru terletak pada perspektif beliau dalam menyikapi cobaan-cobaan yang menimpa dakwah ini. Mulai dari pertentangan antara Al-Ikhwan dengan Partai Wafd, kepahlawanan Al-Ikhwan di Palestina yang dibalas dengan penangkapan masal oleh pemerintah Mesir, pembangkangan Nizham Khas terhadap Mursyid ‘Am, pembunuhan yang dilakukan oleh anggota Al-Ikhwan terhadap saudaranya sendiri, hingga penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan oleh Gamal Abdul Nashir dan algojonya, Hamzah Basyuni.

Sebagian dari kasus-kasus yang dijelaskan dalam buku ini barangkali masih asing bagi kader dakwah di Indonesia. Banyak yang bingung mengapa para asatidz yang dulunya mendukung dakwah kini berbalik memusuhinya, padahal yang terjadi pada Imam Hasan al-Banna malah lebih buruk daripada itu. Beliau sendiri yang mendirikan Nizham Khas sebagai organisasi rahasia yang memiliki tujuan mulia demi kemuliaan Islam, namun justru Nizham Khas itulah yang pertama kali bertindak serampangan dengan membunuh seorang hakim. Memang hakim itu dikenal telah menzalimi Al-Ikhwan dalam kasus-kasus yang direkayasa oleh pemerintah, namun Hasan al-Banna sedikitpun tak pernah berpikir untuk memusuhi para hakim, apalagi memberikan instruksi untuk membunuhnya. Akibat dari tindakan ekstrem ini, tekanan terhadap Al-Ikhwan semakin kuat, hakim yang dibunuh diganti dengan yang lebih kejam, Syaikh Sayyid Sabiq yang dikenal lembut justru dituduh sebagai pembuat fatwa pembunuhan, dan Syaikh al-Qaradhawi sendiri pada akhirnya ikut dikejar-kejar dan dijebloskan ke penjara. 

Pembangkangan Nizham Khas semakin nampak jelas dalam pertentangannya dengan Mursyid ‘Am kedua, yaitu Hasan al-Hudhaibi, bahkan mereka sampai menduduki Markaz ‘Am Al-Ikhwan. Di akhir bukunya, Syaikh al-Qaradhawi menjelaskan ketidaksetujuannya terhadap keberadaan organisasi rahasia seperti Nizham Khas, karena tabiatnya yang seperti ‘negara di dalam negara’ dan bahaya timbulnya kesombongan diantara anggotanya yang menyebabkan mereka tak mau lagi mendengarkan Mursyid ‘Am. Meski demikian, Syaikh al-Qaradhawi sama sekali tidak mempertanyakan keikhlasan mereka.

Syaikh al-Qaradhawi juga menggarisbawahi sikap sebagian Ikhwan yang disebutnya sebagai “tindakan kasar dalam menghukumi sesama Ikhwan yang berbeda dengan mereka”. Tindakan yang dimaksud adalah tuduhan pengkhianatan kepada Syaikh Abdul Aziz Kamil dan Syaikh Muhammad al-Ghazali, hanya karena mereka berbeda pendapat dengan Al-Ikhwan. Keduanya adalah tokoh yang sangat dihormati – bahkan dianggap sebagai guru – oleh Syaikh al-Qaradhawi. Syaikh Abdul Aziz Kamil adalah tokoh Al-Ikhwan yang sangat terkemuka, bahkan sempat dicalonkan sebagai Mursyid ‘Am kedua. Namun beliau memilih untuk bekerja sama dengan pemerintah dengan menerima jabatan sebagai Menteri. Menurut Syaikh al-Qaradhawi, itulah jalan yang telah dipilihnya, dan tak pernah ada indikasi bahwa beliau telah mengkhianati Al-Ikhwan, apalagi Islam. Demikian pula Syaikh al-Ghazali, yang seringkali dianggap sebagai tokoh kontroversial. Meski ‘berbeda jalan’ dengan Al-Ikhwan, namun Syaikh al-Qaradhawi tak menganggap perbedaan pendapat itu sebagai alasan untuk melupakan begitu saja jasa-jasa Syaikh al-Ghazali dalam dakwah. Sebaliknya, Syaikh al-Qaradhawi justru mengajukan sebuah perspektif unik dalam memandang masalah ini. Menurutnya, apa yang terjadi antara Syaikh al-Ghazali dengan jamaah Al-Ikhwan justru memiliki hikmah mendalam. Ketika Gamal Abdul Nashir menangkap dan menyiksa kader-kader dakwah di penjara-penjaranya, Syaikh al-Ghazali justru selamat dari tuduhan, sehingga beliau bebas mendakwahkan Islam di luar penjara. Dengan demikian, selalu ada saja yang melaksanakan tugas-tugas dakwah.

Mereka yang sering membaca buku yang menceritakan keutamaan Imam Hasan al-Banna barangkali perlu ‘mengimbanginya’ dengan membaca buku ini, sehingga dapat melihat sendiri bahwa Imam al-Banna sekalipun mengalami kesulitan besar dalam mengelola jamaahnya yang telah tumbuh besar. Buku ini juga baik untuk dibaca oleh mereka yang membayangkan bahwa jalan dakwah itu lurus, dan tak berliku-liku. Buku ini menyadarkan kita akan berbagai bahaya yang mengancam dakwah, mulai dari pembangkangan terhadap syura’, idealisme yang tidak mempertimbangkan kondisi, dan tingginya wawasan yang tak menjamin kepiawaian dalam menjaga ukhuwwah dalam situasi terjadinya perbedaan pendapat.

Semoga Allah merahmati Syaikh Yusuf al-Qaradhawi atas karyanya ini. Sebagaimana petuah dari Syaikh Musthafa Masyhur, jalan dakwah akan senantiasa berliku, berduri, bahkan penuh dengan jebakan. Inilah tabiat dakwah yang tak mungkin diubah. Akan tetapi, kita bisa mengubah perspektif kita dalam menyikapi fenomena tersebut. Perspektif yang ditawarkan oleh Syaikh al-Qaradhawi dalam buku ini terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja. 

BOM ULIL

Written By Sjam Deddy on Rabu, 16 Maret 2011 | 20.48


Kasus Bom dalam berita terakhir sungguh sarat dengan muatan muatan praduga bagi segenap masyarakat awam maupun aktifis apapun latarbelakangnya yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Apalagi jika dikaitkan dengan berbagai peristiwa yg terjadi di negara kita akhir akhir ini. Semua elemen bangsa yg berkepentingan dengan agenda masing masing, pasti mempunyai sudut pandang berbeda terkait dengan peristiwa pemboman kemarin. Baik itu aktifis HAM, Liberal, Pluralisme ataupun aktifis Islam yang berkeinginan tegaknya Islam di bumi Indonesia ini.

Dalam benak sebagian masyarakat yang melek dengan setiap peristiwa besar yang sedang terjadi di negeri ini, pasti akan berusaha mencari benang merah antara urutan urutan peristiwa sehingga secara samar atau tampak jelas, apa sebenarnya yang sedang terjadi dinegeri ini. Mungkin ada beberapa pandangan terkait kasus ini dengan peristiwa yang terjadi belakangan  :

  1. Pendeskreditan Kelompok Tertentu
Seiring dgn sedang berjalannya pengadilan terhadap Ust Abu Bakar Basyir dengan kasus terorismenya, sehingga masyarakat (termasuk kesimpulan kepala BPTT Ansyaad Mbai) akan begitu mudah menyimpulkan bahwa pemboman ini erat hubungannya dengan persidangan Ust Abu. Karena orang-orang seperti Ulil beserta komunitas JILnya begitu lantang dalam mendeskreditkan Ust Abu beserta kelompoknya dengan dalih HAM atau kekerasan atas nama agama, yang begitu intens di propagandakan oleh Ulil dan gangnya diberbagai media massa, Juga Komjen Gories Mere yang selalu ikut serta dalam banyak operasi Terorisme yang melibatkan kelompok Islam tertentu. Padahal beliau tidak termasuk dalam struktur kepolisian ditubuh polri yang bertugas memberantas teroris. Sehingga memicu tanda tanya besar bagi umat Islam, ada agenda apa dengan Gories Mere ?. Meskipun dari persidangan yang sudah berjalan selama ini, Ust Abu tidak terbukti terlibat dalam tindak terorisme. Apalagi dalam proses persidangan tersebut masyarakat yang obyektif, kuat mencium aroma rekayasa dalam kasus ini. Sehingga banyak yang menduga jika pelaku bom ini bisa jadi punya motif untuk mendeskreditkan kelompok tertentu yang bertentangan dengan ideologi atau agenda mereka. Seperti yang telah kita ketahui bahwa pengirim bom dengan lugunya mencantumkan nama beserta gelar yang dia punyai (Sulaiman Azhar, Lc). Apa tujuan dari si pengirim, adalah sesuatu yang sangat tidak masuk akal dan memunculkan kecurigaan karena gelar Lc adalah gelar yang didapat dari alumnus alumnus timur tengah. Dari sini kita bisa melihat bahwa si pengirim bom bisa jadi ingin menanamkan di alam bawah sadar masyarakat awam Indonesia bahwa, komunitas Islam tertentu adalah berbahaya bagi masyarakat karena selalu menanamkan rasa kebencian terhadap kelompok tertentu dan ini adalah tujuan jangka panjang dan jauh lebih berbahaya yang seringkali kita dapatkan berdasarkan dari pengalaman selama ini.

  1. Penguatan Ketokohan
Ulil dan JILnya adalah salah satu pilar yang begitu intens dalam memperjuang kan HAM (versi mereka) dan Pluralisme di ranah bangsa ini. Tetapi wacana Pluralisme belakangan ini semakin mengecil, karena tokoh besar Indonesia yang begitu kuat pengaruhnya dalam wacana pluralisme sudah tiada (gusdur). Dalam hal ini sangat diperlukan kaderisasi atau penokohan seseorang untuk menguat kan kembali wacana pluralisme, dengan melakukan pembentukan tokoh pejuang pluralisme baru, dengan memposisikan Ulil sebagai korban kekerasan pihak lain. Apalagi dengan kondisi real masyarakat awam kita, bahwa korban cenderung diposisikan sebagai pihak yang benar. Sehingga jika Ulil diposisikan sebagai pihak yang benar maka secara otomatis Ulil dan JILnya beserta barang asongannya (Pluralisme dan Liberalisme) akan laku keras di masyarakat awam, seiring dengan semakin menguatnya ketokohan si Ulil.  Dan hal ini didukung sepenuhnya oleh pihak pihak yang mempunyai agenda yang sama dengan pihak Ulil beserta pasukannya, meskipun dengan itu sampai mengorbankan pihak yang tidak bersalah.

  1. Adu Domba
Dengan adanya kasus bom di Utan Kayu, BNN, dan ketua Pemuda Pancasila jika ditarik benang merah, maka akan diperoleh kenyataan bahwa pihak Islam yang selalu menuntut diperlakukannya syariat Islamlah, yang bisa dijadikan tertuduh dalam kasus ini. Jika posisi Ulil begitu jelas dengan ide Pluralismenya, Komjen Gories Mere (kepala BNN) yang sering terlibat dalam operasi pemberantasan terorisme (padahal ini bukan otoritas resminya), sehingga sering disebut bahwa beliau adalah pemimpin informal operasi terorisme di Indonesia. Maka banyak kalangan yang menilai bahwa memang suatu kesengajaan bahwa umat Islam dikondisikan agar berlaku radikal. Karena seringnya aparat melakukan diskriminasi jika umat Islam tersangkut dalam berbagai isu. Dengan berbagai warna umat Islam berjuang untuk menegakkan agendanya masing masing maka otomatis mereka berpecah belah dengan keadaan ini, sehingga dengan adanya kasus ini para tokoh ataupun pemimpin ormas ataupun orpol Islam saling curiga dan saling menuding bahwa pihak lain “salah metode” dalam memperjuangkan aspirasinya.

  1. Opini penguatan BIN beserta semua kewenangannya
Dalam berbagai kasus pemboman dinegeri ini dimana masyarakat menilai bahwa fungsi intelijen tidak berfungsi dengan baik, sehingga tidak ada rasa aman  maka petinggi petinggi BIN selalu beropini bahwa BIN kesulitan dalam melakukan tindakan operasional kaena terkendala oleh UU yang membatasi wewenang BIN. Dalam kasus ini sangat memungkinkan bahwa wacana untuk memberikan wewenang berlebih untuk BIN menjadi menguat, dengan alasan untuk menum- buhkan rasa aman di masyarakat dan memberangus gerakan gerakan radikal (versi BIN). 

  1. Pengalihan Isu
Gonjang ganjing berita wikileaks dengan isu Korupsi Presiden SBY semakin membuat pemerintah panik sehingga diciptakanlah sebuah peristiwa besar yang bisa berfungsi sebagai pengalihan isu. Tetapi berdasarkan data-data yang ada, kami berkesimpulan kecil sekali kasus ini dijadikan salahsatu cara pemerintah (dalam hal ini aparat) untuk mengalihkan isu isu mutakhir.


Dalam alam demokrasi, dengan catatan bahwa demokrasi yang sesuai dengan penger- tian yang benar-benar adil, maka siapapun, agama apapun, ideologi apapun berhak untuk menyampaikan aspirasinya ke ranah publik selama aspirasi itu disampaikan dengan damai dan sesuai dengan azas demokrasi itu sendiri. Dititik  inilah umat Islam mengalami diskriminasi dan ketidak adilan. Bagi pemerhati yang jernih dan sehat akalnya sangat mudah untuk mendeteksi kasus kasus yang melibatkan umat Islam atau umat Islam menjadi korban maka mereka penggiat HAM pluralisme liberalisme diam seribu bahasa. Ingat kasus Irak, Afghan, Priok, Talangsari, Ambon dan masih banyak lagi. Padahal korban yang dalam kasus tersebut tidak bisa dikatakan sedikit. Tetapi jika yang menjadi korban adalah non muslim maka mereka (penggiat HAM pluralisme liberalisme) langsung koar koar di media massa. Ingat kasus timor timor kasus HKBP dan masih banyak lagi.

Maka sudah menjadi hak bagi umat Islam dalam menyampaikan aspirasinya secara damai melalui lembaga lembaga resmi negara seperti di DPR atau MPR baik di pusat ataupun di daerah, sehingga muncullah UU atau perda perda yang sesuai dengan nafas Islam. Tetapi mengapa penggiat HAM dan Pluralisme ini tetap menggugat gerak dan langkah umat Islam dalam menyampaikan aspirasinya, dengan dalih bertentangan dengan Pancasila NKRI Bhineka tunggal ika dan lain sebagainya. Apakah aspirasi umat Islam bertentangan dengan Pancasila dan turunannya itu ??, inilah yang menjadi masalah karena apa yang disampaikan oleh mereka hanyalah propaganda dan opini negatif yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dari sisi ilmiah dan akademis. Dan jika di telaah lebih jauh, opini mereka adalah untuk memenuhi pesan sponsor (asing atau pihak yang tidak menginginkan umat Islam berperan dalam urusan kenegaraan) karena pastinya akan bertentangan dengan agenda dan kepentingan mereka.

Jadi pertanyaannya, sebenarnya siapakah yang berkhianat  terhadap azas demokrasi ?. 

Untuk itu menurut hemat kami seyogyanyalah seluruh komponen umat Islam baik itu ormas dan orpol bisa bersatu, jika menghadapi isu isu yang menyangkut umat Islam dan hendaknya membuang ego masing masing sehingga kepentingan umat yang lebih banyak bisa terpenuhi.



Wallahu alam bishowab


Asdeddy Sjam


Kontrak dan Komitmen Kemenangan

Written By Sjam Deddy on Rabu, 09 Maret 2011 | 17.42


Sebenarnya saya sudah lama ingin menulis tentang wacana perubahan isi kontrak koalisi. Ternyata benar saja, jum’at (4/3-2011) lalu Hatta Rajasa mewacanakan hal ini.

Pasalnya bila kita membedah kontrak koalisi secara ilmiah, kita akan dapati bahwa kontrak ini tetap menjamin hak dari setiap partai politik untuk dapat bersikap kritis terhadap pemerintah, bahkan juga mendorong untuk saling melakukan fungsi checks and balances.

Lebih dalam mengenai hal ini, silahkan baca tulisan saya yang berjudul “Komitmen Kontrak Koalisi” di blog pribadi saya, aajaka.wordpress. com. Boleh jadi hal inilah yang kemudian memicu wacana perubahan kontrak koalisi. 

Yang menjadi pertanyaan untuk saat ini adalah, pantaskah partai peserta koalisi tersebut merubah isi kontrak koalisi? Adakah hubungan antara kontrak koalisi dengan tanggung jawab terhadap rakyat, khususnya para pemilih SBY-Boediono? Untuk menjawab hal tersebut, mari kita telusuri dulu sejarah kontrak koalisi ini.


Sejarah Koalisi

Jauh-jauh hari sebelum koalisi dibentuk, SBY sempat mendatangi Hilmi Aminudin, Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk meminta dukungan beliau agar PKS kembali mengusung SBY dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2009-2014. Lobi-lobi terus terjadi. Berbagai hal pun menjadi pertimbangan, termasuk evaluasi atas koalisi yang terjadi pada tahun 2004-2009. Salah satu hal yang sempat diungkapkan oleh PKS adalah, PKS tak ingin hanya sekedar menjadi bemper dari koalisi. PKS ingin dengan bergabungnya PKS di dalam koalisi, PKS mendapat andil dalam pengambilan keputusan-keputusan strategis, baik di eksekutif maupun legislatif.


Akhirnya PKS mengajukan piagam koalisi yang kemudian disepakati oleh kedua belah pihak dengan pembubuhan tanda tangan pada kontrak tersebut di Jakarta pada 9 Mei 2009. Partai Demokrat diwakili oleh Hadi Utomo selaku Ketua Umum dan Marzuki Alie selaku Sekretaris Jenderal, dan Partai Keadilan Sejahtera diwakili oleh Tifatul Sembiring selaku Presiden dan Anis Matta selaku Sekretaris Jenderal. Piagam ini adalah piagam pertama yang kemudian menjadi acuan paling dasar dalam perjalan koalisi, khususnya untuk Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera. Di dalamnya juga disepakati bahwa partai-partai lain yang ingin bergabung dalam koalisi juga harus terikat pada piagam ini.



Kondisi 2009

Saat Pilpres, SBY dicalonkan sebagai presiden yang berada dalam posisi terikat dengan agenda dan komitmen yang disepakati dalam kontrak koalisi. Yang terlibat dalam kontrak itu adalah Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Kebangkitan Bangsa. Dengan serangkaian komitmen, kampanye, sosialisasi, rasionalisai, dan arahan kepada para kader, simpatisan, dan pendukung masing-masing partai, pasangan ini kemudian menang.


Di sisi lain ada PDI Perjuangan dan Partai Gerindra yang mengusung pasangan Mega-Prabowo dengan kesepakatan, agenda, dan komitmen yang ada diantara mereka. Dan satu sisi lagi adalah Partai Golkar dan Partai Hanura yang mengusunng JK-Wiranto, yang juga dengan kesepakatan, agenda, dan komitmen tersendiri lagi. Jadi bila kita berbicara dalam konteks ini, sebenarnya ada tiga sisi.


Dalam perjalanannya, Mega-Prabowo dan JK-Wiranto bersepakat untuk berkoalisi bila pemilu dilangsungkan dalam dua putaran, untuk melawan paket SBY-Boediono. Apalagi bila kita mengingat fenomena kampanye yang terjadi saat itu. Tim Mega-Prabowo dan Tim JK-Wiranto seolah bersatu menyerang Tim SBY-Boediono. JK-Wiranto dengan slogan “lebih cepat, lebih baik”-nya di tengah opini bahwa SBY adalah pemimpin yang lamban dan tidak tegas. Dan Mega-Prabowo dengan slogan “Pro Rakyat”-nya di tengah opini neoliberalisme Boediono. Bahkan untuk memperkuat citra ini, Mega-Prabowo melakukan deklarasi pencalonan mereka di TPA Bantar Gebang.


Logika Koalisi

Jadi bila kita berbicara dalam konteks yang lebih makro, dapat disebut hanya ada dua kubu, kubu yang pertama adalah koalisi SBY-Boediono (PD, PKS, PAN, PPP, dan PKB) dan kubu yang kedua adalah Mega-Parbowo (PDIP dan Gerindra) bersama JK-Wiranto (Golkar dan Hanura). Kedua kubu tersebut bersebrangan sangat jauh, bahkan juga ketika bila dilihat dari isu, agenda, dan komitmen yang mereka tawarkan saat kampanye.


Mengingat ini semua, tentu logika SBY yang mengajak PDIP dan Gerindra untuk tergabung dalam koalisi, tidak masuk akal. Sebenarnya sama juga tidak masuk akalnya dengan masuknya Golkar ke dalam koalisi. Bahkan juga bila kita berbicara soal konsistensi komitmen saat kampanye, tak mungkin SBY berkoalisi dengan Golkar, apalagi dengan PDIP dan Gerindra yang jauh bersebrangan. Sayangnya begitu banyak yang mudah lupa dengan akar sejarah koalisi ini.


Jadi pantas rasanya bila kita pertanyakan kembali komitmen yang ditawarkan saat kampanye. Apalagi bila kita telusuri, yang menang dalam pilpres 2009 bukan sekedar SBY-Boediono, tapi sepaket koalisi yang dulu ditawarkan kepada rakyat. Ada komitmen, agenda, dan semuanya. Bila kemudian kontrak koalisi pun diubah, jelaslah sudah pengkhianatan SBY-Boediono terhadap amanah kemenangan 2009.




Ahli Neurology Austria Membeberkan Fakta Mengejutkan Tentang Wudhu

Written By Sjam Deddy on Selasa, 08 Maret 2011 | 19.08

Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorangpsikiater dan sekaligus neurologyberkebangsaan Austria, menemukan sesuatu yang menakjubkan terhadap wudhu. Ia mengemukakan sebuah fakta yang sangat mengejutkan.

Bahwa pusat-pusat syaraf yang paling peka dari tubuh manusia ternyata berada di sebelah dahi, tangan, dan kaki. Pusat-pusat syaraf tersebut sangat sensitif terhadap air segar. Darisini ia menemukan hikmah dibalik wudhu yang membasuh pusat-pusat syaraf tersebut. Ia bahkan merekomendasikan agar wudlu bukan hanya milik dan kebiasaan umat Islam, tetapi untuk umat manusia secara keseluruhan.

Dengan senantiasa membasuh air segar pada pusat-pusat syaraf tersebut, maka berarti orang akan memelihara kesehatan dan keselarasan pusat sarafnya. Pada akhirnya Leopold memeluk agama Islam dan mengganti nama menjadi Baron Omar Rolf Ehrenfels.

Ulama Fikih juga menjelaskan hikmah wudlu sebagai bagian dari upaya untuk memelihara kebersihan fisik dan rohani. Daerah yang dibasuh dalam air wudlu, seperti tangan, daerah muka termasuk mulut, dan kaki memang paling banyak bersentuhan dengan benda-benda asing termasuk kotoran. Karena itu, wajar kalau daerah itu yang harus dibasuh.

Ulama tasawuf menjelaskan hikmah wudlu dengan menjelaskan bahwa daerah-daerah yang dibasuh air wudlu memang daerah yang paling sering berdosa. Kita tidak tahu apa yang pernah diraba, dipegang, dan dilakukan tangan kita. Banyak pancaindera tersimpul di bagian muka.

Berapa orang yang jadi korban setiap hari dari mulut kita, berapa kali berbohong, memaki, dan membicarakan aib orang lain. Apa saja yang dimakan dan diminum. Apa saja yang baru diintip mata ini, apa yang didengar oleh kuping ini, dan apa saja yang baru dicium hidung ini? Ke mana saja kaki ini gentayangan setiap hari?

Tegasnya, anggota badan yang dibasuh dalam wudhu ialah daerah yang paling riskan untuk melakukan dosa.

Organ tubuh yang menjadi anggota wudlu disebutkan dalam QS al-Maidah [5]:6, adalah wajah, tangan sampai siku, dan kaki sampai mata kaki. Dalam hadis riwayat Muslim juga dijelaskan bahwa, air wudlu mampu mengalirkan dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh mata, penciuman, pendengaran, tangan, dan kakinya, sehingga yang bersangkutan bersih dari dosa.

Kalangan ulama melarang mengeringkan air wudlu dengan kain karena dalam redaksi hadis itu dikatakan bahwa proses pembersihan itu sampai tetesan terakhir dari air wudlu itu (ma’a akhir qathr al-ma’).

Wudlu dalam Islam masuk di dalam Bab al-Thaharah (penyucian rohani), seperti halnya tayammum, syarth, dan mandi junub. Tidak disebutkan Bab al-Nadhafah (pembersihan secara fisik). Rasulullah SAW selalu berusaha mempertahankan keabsahan wudlunya.

Yang paling penting dari wudlu ialah kekuatan simboliknya, yakni memberikan rasa percaya diri sebagai orang yang ‘bersih’ dan sewaktu-waktu dapat menjalankan ketaatannya kepada Tuhan, seperti mendirikan shalat, menyentuh atau membaca mushaf Alquran. Wudlu sendiri akan memproteksi diri untuk menghindari apa yang secaraspiritual merusak citra wudlu. Dosa dan kemaksiatan berkontradiksi dengan wudlu.

Misteri

Teknologi

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Abi Zikri - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger