Januari 2009 - Abi Zikri
Headlines News :

ALASAN SYAR'I BOIKOT ISRAEL DAN AS

Written By Sjam Deddy on Jumat, 16 Januari 2009 | 18.30

5 ALASAN & DALIL SYAR’I
MENGAPA HARUS MEMBOIKOT PRODUK YAHUDI

Syeikh Qaradhawi mengatakan, satu real yang kita belanjakan untuk produk Israel dan AS, sama dengan satu peluru merobek tubuh anak Palestina
Hidayatullah.com--Semenjak Israel menyerang keji kaum Muslim di Jalur Gaza, Palestina, banyak desakan masyarakat Islam melakukan boikot produk-produk Yahudi. Sebelumnya, tepat hari Ahad, 8 Oktober 2000, Al-Jazira News Network, sebuah stasiun Televisi di Qatar, menyiarkan sebuah acara wawancara dengan Syeikh DR. Yusuf Al-Qaradhawi. Dalam acara bertema ”Palestina dan Kewajiban Jihad bagi Setiap Muslim”, Syeikh al-Qaradhawi mengemukakan sebuah fatwa, bahwa "memboikot produk-produk buatan Israel dan Amerika adalah kewajiban bagi seluruh Muslim di seluruh dunia."
Qaradhawi mengatakan bahwa setiap dollar yang kita bayarkan untuk sebotol Coca-Cola, misalnya, akan menjadi sebuah peluru yang dalam persenjataan perang orang-orang Amerika atau Israel akan dibidikkan langsung ke arah kita. Beliau mengatakan bahwa adalah haram dalam hal ini.
"Kita telah menyumbangkan uang kita setiap harinya kepada McDonalds, KFC, Burger King dsb, tanpa memikirkan akan kemana uang itu pergi? Menurut pendapat saya, setiap Muslim harus bertanggung jawab dalam hal ini, atas keluarga dan gaya hidup mereka. Lihatlah kepada orang-orang Amerika yang telah mem-Veto resolusi PBB untuk mengutuk aksi tentara Israel di Palestina. Jika mereka itu adalah pemelihara perdamaian, seperti yang mereka klaim, mungkinkah mereka melakukannya?," tegasnya.
Selanjutnya beliau menyerukan : "Wahai Manusia, tidakkah kalian berfikir? Tidakkah kalian tidak memiliki perasan lagi? Tidakkah kalian merasakan kepahitan negara-negara Arab dan Islam dalam hal ini? Darah yang paling murah adalah darah kita! Kita telah menjadi kelinci percobaan bagi senjata-senjata dan peluru-peluru serta teknologi mereka. Persenjataan perang ini didanai oleh uang kita, dalam gaya hidup konsumerisme yang mereka paksakan pada kita. Saya bertanya kepada Anda semua, dengan nama Allah, Muslim dan Kristen. Saya bertanya kepada Anda semua, atas nama ribuan orang yang mati di tangan teroris-teroris itu pada tahun 1948, 1967, 1973 di Qana, di dir Yassin, Di Bahr Al-Bakar, di jalur Gaza dan di Al-Quds?.
Dalam kesempatan lain, Syeikh al-Qaradhawi juga mengatakan, "Satu real (mata uang Arab-red) yang Anda keluarkan untuk membeli produk Israel dan AS, sama dengan satu peluru yang akan merobek tubuh saudara Anda di Palestina."

Suara dari Indonesia
Nah, bagaimana dengan suara kaum Muslim di Indonesia. Alhamdulillah, umumnya semua sama. Meski ada sedikit perbedaan. Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. DR. KH. Ali Mustofa Ya’kub, misalnya mengatakan, cara yang efektif yang dapat membuat jera Amerika (yang selama ini sanantiasa berada dibalik aksi Israel) adalah memboikot produk dan perusahaan yang mendukung agresi Israel.
Namun, diakuinya boikot di Indonesia tidaklah mudah, namun menurut pakar hadist ini, pemboikotan secara tidak langsung dapat merugikan kepentingan Amerika dan Israel. Dengan aksi ini, berharap AS mempertimbangkan kembali dukungannya terhadap Negara keji bernama Israel.
Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat, KH. Ma’ruf Amin, mengatakan, memboikot produk Yahudi merupakan pressure (tekanan) secara ekonomis yang dapat memberikan efek jera Yahudi dan Amerika. Jika boikot ramai dilakukan di Indonesia, dan di negara-negara islam seperti Arab, niscaya Amerika lambat laun akan merugi dan mempertimbangkan dukungannya terhadap Israel. Sebab, diakui ketua MUI ini, yang dapat men-stop kebrutalan Israel adalah Amerika. Jika Amerika tetap saja mendukung, maka Israel akan bersikukuh menggempur Gaza.
Oleh karena itu, memboikot produk Yahudi sangat dianjurkan. Dan hal teringan yang dapat kaum muslim lakukan di Indonesia. Walau, diakui Ma’ruf boikot bila dilakukan Indonesia saja akan kurang efektif jika tidak bersinergi dengan Negara-negara lain, namun hal itu sebagai bentuk solidaritas kita terhadap muslim Gaza yang sedang dilanda krisis kemanusiaan luar biasa.”katanya.
Perdebatan seputar efektif dan tidaknya seputar boikot menurut Ma’ruf jangan diperpanjang lagi. Sebab, boikot ditinjau dari segi manapun sangat berdasar. Dalam Islam, tindakan memboikot produk Yahudi dapat dikategorikan men ta’zir (menghukum) yang befungsi sebagai efek jera terhadap Amerika. Walau memang harus ada yang dikorbankan. Dan tentunya masyarakat yang berkerja di sektor-sektor ekonomi Yahudi. Namun, kemafsadatan nya lebih kecil ketimbang memboikot produk Yahudi yang berfungsi menghentikan agresi Israel.

Alasan Syar’i
Menurut guru besar ilmu hadist pada Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran di Jakarta ini, ada tiga alasa fikihnya jika boikot digunakan. Pertama adalah kaidah fikih yang berbunti, “Memprioritaskan kepentingan lebih besar, ketimbang kepentingan kecil”(Al-drarar yuzāl). Kedua, kaidah fikih yang mengatakan, “Mencegah kerusakan itu didulukan daripada membuat kebaikan“ (Darul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih). Terakhir, “Kebijakan pemimpin, harus dikaitkan dengan kepentingan rakyat” (Tasarraful imam ‘ala ar-ra’iyyah manuutun bil maslahah). Inilah yang kemudian dilakukan pemerintah Malaysia yang secara resmi menginstruksikan boikot.
Selain alas an kaidah fikih, menurut Musthafa Ya’kub, ada juga hadist yang menguatkan hal itu. Bunyinya, “Unsur akhaka, dholiman au madhluuman. Qaaluu ya Rasulullah, Nansuruuhu Madhluuman, fakaifa nanshuruuhu dholiman. Qaala, ya’hudu fauqa yadaihi.” (Tolonglah saudaramu yang dzalim atau yang didzalimi (teraniaya). Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah. Kami jelas akan menolong yang didzalimi, lalu bagaimana kami menolong saudara kami yang dzalim?” Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Yakni kamu tahan tangannya agar tidak berbuat dzalim.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)
Menurut Mustofa, korelasi dalil-dalil tersebut sangat kohern dengan kebijakan boikot. Bahwa kezhaliman yang dilakukan oleh Israel terhadap muslim Gaza harus segera diakhiri. Adapun kemaslahatan dari produk Yahudi di Indonesia lebih kecil. Sebab, dengan demikian dapat menekan Amerika untuk mencabut dukungannya terhadap Isreal.
Soal kaidah ushul, senada dengan Mustafa Ya’kub, Ma’ruf Amin juga mengatakan, kaedah, “Darul mafasid, muqoddamu ‘ala jalbil masholih” (Menolak kerugian itu, harus diutamakan dari mendahulukan kepentingan). Juga kaedah “Bahaya yang lebih kecil dipilih untuk mencegah bahaya yang lebih besar” (al dharar al ashadd yuzaalu bi al dharar al akhaff).
Tapi bagi Prof. Dr. Ahmad Zahro, dosen Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya, menyarankan, sebelum diserukannya boikot harusnya dilakukan riset “ahhaqu dhorurot” terlebih dahulu. Jika boikot ternyata lebih banyak manfaatnya untuk kamaslahatan sudah harus dilakukan boikot. Namun, jika lebih banyak kemafsadatanya bagi masyarakat, maka harus dipertimbangkan. Karena menurutnya, masyarakat banyak di-PHK dan akan menjadi miskin gara-gara sektor-sektor ekonomi yang dimiliki Amerika ditutup.
Tapi Ma’ruf Amin, menolak argument Zahro. Menurut Ma’ruf, ribuan korban luka dan hampir 1o00 orang meninggal merupakan kemudhoraotan besar yang harus dihilangkan. “Jadi tidak perlu diadakan riset (penelitian) untuk menghitung unsur “ahaqqu dhorurot”-nya, sebab hal itu sudah jelas,” terang Ma’ruf.
Ma’ruf juga mengatakan bahwa derita yang dialami muslim Gaza adalah musibah besar yang menuntut setiap Muslim untuk membantunnya. “Jadi, salah jika ada yang mengatakan bahwa konflik Palestina soal rebutan tanah, itu soal agama,” tandasnya. Ma’ruf juga prihatin atas sikap apatisme sebagian masyrakat yang melihat sebelah mata kasus Palestina. Seperti menolak membantu warga Gaza karena masih banyak warga Indonesia yang juga membutuhkan. “Masyarakat jangan dikotomis dalam menilai. Islam tidak memandang territorial, yang namannya Muslim baik di Gaza, Monokwari dan Papua, itu saudara kita yang harus ditolong,” katanya.
Senada dengan Mustafa dan Ma’ruf Amin, Abdurahman Nafis, Ketua bidang Fatwa MUI Jatim mengatakan, boikot adalah jenis “perang ekonomis’. Karena dengan boikot berarti, sama saja menolak dan menentang Amerika. Hal ini disebutkan Allah bahwa kaum Muslim harus menolak untuk saling tolong menolong (ta’awun) dalam kejahatan. Nafis menyitir (Q.S. al-Ma'idah ayat 2). “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaan-Nya.”
“Jika kita tidak bisa berperang secara militer, maka ekonomi juga bisa membantu,” ujarnya.
Sementara itu, dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIL) Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Abdul Kholiq, Lc mengatakan, dua alasan penting melakukan boikot. Pertama, seruan hal jihad Rasulullah. Baik dengan harta dan jiwa. "Perangilah kaum musyrik itu dengan harta, jiwa dan lisan kalian." (HR. Abu Dawud dan Nasa'i). Kedua, pendapat Imam Malik bahwa perbuatan yang dilarang, jika mengekspor komoditas ke negara “musuh” (dar al-harb). Sebab yang demikian itu berarti memperkuat “musuh”. Sementara beliau membolehkan impor atau pedagang kafir datang menyuplai komoditas untuk kaum Muslimin (Abd al-Rahman Ibn al-Qasim al-Maliki, al-Mudawwanah: X, 102, Wahbah al-Zuhaili, Atsar al-Harb fi al-fiqh al-Islami, 513).
Hal ini dapat dipahami sebab kaum Muslimin saat itu berposisi kuat dalam perdagangan yaitu sebagai pihak yang mencukupi, hingga sanksi ekonomi dapat diterapkan dalam bentuk embargo. Namun dalam kondisi kaum Muslimin saat ini yang mayoritas adalah penikmat dan penyetor keuntungan bagi produk Yahudi dan sekutunya, maka harus disikapi dengan boikot. Sementara itu seorang Muslim ataupun negara Islam yang menyuplai kebutuhan vital untuk musuh seperti minyak dan sebagai maka, wajib untuk mengembargo.
Saat ini, ribuan milyar dollar kekayaan para emir dan pengusaha Arab di parkir di Amerika dan Eropa adalah suntikan darah segar bagi dana pengembangan ekonomi, teknologi dan persenjataan “musuh” tersebut. Pada gilirannya “musuh” semakin kuat sementara para milyarder semakin ketakutan dan semakin tunduk mengabdi kepada “musuh” itu. Sungguh merupakan cara pandang yang cerdik dan berwawasan jauh apa yang dikemukakan Imam Malik penting untuk kita aplikasikan.
Pada prinsipnya, semua setuju dengan langkah boikot. Abdurrahman Nafis memberi catatan, boikot akan lebih efektif jika dilakukan oleh seluruh negara-negara Islam, terutama di Timur Tengah.
Secara teknis Ahmad Zahro menjelaskan, jika Arab Saudi atau Mesir, memboikot produk Amerika dan tidak perlu mengekspor miyaknya ke Amerika dan Israel, maka aka dapat dirasakan dampaknya secara langsung oleh Amerika. Oleh karena itu, dia juga menghimbau agar Indonesia berkonsolidasi dan bersinergi dengan Negara-negara arab dalam memboikot produk Yahudi.
Apapun itu, kata Zahro, melakukan hal kecil jauh lebih baik daripada tak melakukan apa-apa. Sebagaimana kaidah ushul fikh, “Maa laa yudraku kulluh la yutraku kulluh” (apa yang tidak bisa dicapai semua janganlah kemudian meninggalkan semua).
Dengan demikian, penjelasan beberapa pakar ini dapatlah disimpulkan menjadi 5 poin;
Membeli produknya berarti menyumbang biaya kejahatan
Membeli produknya berarti menyumbang biaya pembunuhan kepada saudara seiman
Membeli produknya berarti bunuh diri
Membeli produknya berarti memperkuat musuh
Yahudi menyatakan membeli produknya berarti telah menjadi Yahudi. [anshor/cholis/kholiq/www.hidayatullah.com]

Zionis belum berhenti membantai, kok kita berhenti membantu? Sisihkan sebagian harta Anda untuk membantu rakyat Gaza di "Hidayatullah.com Peduli Palestina". No Rek BCA: 822 0279422 CP Redaksi www.hidayatullah.com 081


BERDOA BERSAMA PENGEMIS

BERDOA BERSAMA PENGEMIS

Hari Sabtu, kami mengiklankan mobil ke sebuah surat kabar. Ya, kami harus merelakan benda kesayangan itu. Ada sebuah kebutuhan mendesak yang memerlukan uang kontan dalam jumlah tidak sedikit.
Mulai jam 05.30, telepon berdering dari calon pembeli. Ada yang serius, namun selebihnya adalah orang-orang yang menawar dengan harga yang sangat di bawah yang kami harapkan. Mungkin, mereka adalah makelar, yang ingin menjual kembali mobil itu dengan mengambil untung. Kami terus menunggu pembeli yang serius. Namun, sampai menjelang siang, hanya ada seorang calon pembeli yang melihat langsung keadaan mobil kami. Bapak itu serius dan teliti mengamati kondisi mobil, juga mengajukan beberapa pertanyaan sampai detail. Kami pun berharap, semoga beliau jatuh hati dan membeli dengan harga yang cocok.
Setelah hampir seperempat jam mengamati, mulailah kami membicarakan soal harga. Rupanya, belum sesuai dengan keinginan. Tawaran beliau masih terlalu rendah. Bahkan tawaran tertinggi yang beliau sampaikan, belum sampai pada batas minimal kami memberikan harga jual. Akhirnya, beliau pun pulang. Kami pun melepasnnya sambil berharap, semoga nanti beliau menelpon kembali, menaikkan harga.
Sampai sore hari, hanya ada beberapa yang menelpon. Itu pun tidak serius. Kami mulai risau. “Bagaimana bila mobil ini tak terjual?” Padahal, uang itu sangat kami butuhkan. Kami terus menunggu. Namun tak ada seeorang pun yang menelpon atau hanya sekedar sms menanyakan mobil itu. Ini semakin membuat kami pesimis.
Malam hari, ada sebuah telpon dengan nomor tak dikenal. Saat itu, suami tengah tadarus di mushola. Akhirnya saya angkat. Rupanya calon pembeli mobil. Dia menanyakan, apakah mobil sudah terjual atau belum. Setelah saya jawab belum, penelpon menanyakan detail mobil. Sayang, beberapa tak bisa saya jawab, karena saya memang tak begitu menguasai mesin, jenis mobil, fisik dan lainnya.
Akhirnya, penelopon bertanya, “tadi sudah ada yang menawar berapa saja?”Saya jawab dengan jujur, tawaran terendah sampai tertinggi yang diberikan calon pembeli. Di luar dugaan, selesai saya mengatakan hal itu, penelepon mengatakan sesuatu yang membuat saya sedikit naik darah, “tawaran ‘segitu’ (menyebut harga tertinggi) belum dilepas? Memang maunya berapa sih?” dengan nada yang cukup menyakitkan.
Untunglah, saya sedikit bisa berpikir jernih. “Kondisi mobilnya istimewa, Pak. Makanya saya berani memberi harga segitu. Silakan saja dilihat langsung!” jawab saya, dengan nada yang saya buat setenang mungkin dan se-pede mungkin layaknya seorang sales yang meyakinkan konsumen. Setelah itu, benar-benar tak ada yang menelpon lagi. Jadi, kami pikir usaha hari ini dengan memasang iklan di surat kabar tak berhasil. Kami pun merencanakan cara lain lagi untuk menjual mobil. Kami akan mendatangi bursa mobil. Memang akan sangat melelahkan. Kita harus berpanas-panas menunggu pembeli datang di sebuah tempat terbuka. Namun, tak salahnya mencoba. Bagaimana pun juga, ikhtiar haruslah maksimal.
Keesokan harinya, sesaat sebelum kami berangkat, ada telepon masuk dari seorang calon pembeli yang telah menelpon pada hari Sabtu. Beliau ingin melihat kondisi mobil. Harapan pun kembali muncul. Dan tak lama, datanglah calon pembeli itu. Sebuah keluarga yang ramah. Mereka melihat dengan teliti. Sampai mengelus-elus cat mobil, mencari cacat yang mungkin ada. Mereka juga melihat kondisi mesin dengan seksama. Beberapa pertanyaan pun dilontarkan oleh mereka untuk mengetahui lebih jauh akan keadaan mobil. Semua itu kami jawab dengan jujur apa adanya.
Saat itu, datanglah seorang nenek-nenek, menggendong sebuah bakul di punggungnya. Dia menawarkan telur ayam kampung yang hanya tinggal empat butir. Saya beli telur itu dengan harga lebih yang tak seberapa. Terima kasih yang berlebihan keluar dari bibir nenek itu. Ditambah lantunan doa agar kami sekeluarga mendapat berkah dari Allah. Semua itu saya aminkan sambil lalu, karena konsentrasi saya pada mobil dan calon pembeli.
Setelah pembeli puas melihat kondisi mobil, termasuk mencoba mobil mengelilingi perumahan, negosiasi harga pun di mulai. Namun, lagi-lagi belum mencapai kesepakatan. Kami pun tetap pada rencana semula. Ikut bursa mobil. Sesaat sebelum berangkat, datanglah seorang pengemis. Suami mengambil sejumlah uang yang tak biasanya kami berikan kepada peminta-minta.
“Pak, tolong doakan saya. Saya sedang berniat menjual mobil itu, semoga cepat laku dan barakah.” Suami minta didoakan seorang pengemis. Benar-benar tak pernah ada dalam pikiran saya. Bahkan, saya tadi tak begitu menghiraukan doa dari seorang nenek tua penjual telur ayam kampung.
Pengemis tadi pun mendoakan panjang lebar, diselipi dengan doa berbahasa arab yang dilantunkannya dengan fasih. Suami ikut berdoa bersamanya dan mengaminkan dengan sungguh-sungguh. Saya pun berharap banyak, doa ini dikabulkan oleh Allah. Sungguh, kami memerlukan uang dalam waktu dekat.
Setelah itu, berangkatlah kami ke tempat bursa mobil. Sungguh di luar dugaan. Jam belum menunjukkan pukul 11.00, namun, mobil yang akan dijual sudah mencapai 370 buah. Sebuah jumlah yang tak biasanya. Bahkan, beberapa saat setelah kami mendapat parkir, pendaftaran ditutup, karena tempat sudah tak memungkinkan lagi.
Melihat begitu banyaknya mobil yang ada, kami pesimis akan menemukan pembeli di sini. Apalagi, banyak mobil yang jenisnya sama, dengan tahun yang lebih muda dan kondisi yang lebih ‘kinclong’, ditawarkan dengan harga yang sama dengan mobil kami.
Dan benar saja, tak ada seorang pun yang melirik mobil kami. Bahkan, kami semua semakin tersiksa dengan cuaca yang sangat panas di sebuah keramaian yang luar biasa. Anak pertama yang puasa, mengeluh kepanasan dan kehausan. Anak kedua mulai rewel. Sampai bajunya saya lepas dan hanya mengenakan kaus dalam, masih tetap kepanasan dan terus rewel. Akhirnya, kami pun tak tahan dan pulang.
Malam hari, kami memutuskan untuk menghubungi keluarga yang tadi pagi melihat mobil. Kami akan menurunkan harga, dan berharap mereka mau menaikkan harga. Suami pun menelpon, namun tak diangkat. Pikiran negatif terbersit di hati kami. Mungkin mereka telah mendapatkan mobil sesuai yang diharapkan, sehingga ‘malas’ menerima telepon kami. Namun, kami buang rasa itu, dan menganggap mereka sedang tak bisa menjawab telepon. Suami pun sms, menawarkan sebuah harga baru. Alhamdulillah, setelah beberapa waktu, mereka menelpon. Akhirnya setelah dua kali tawar menawar, dicapailah kesepakatan. Sebuah harga yang memang dibawah target kami, namun tak begitu berbeda jauh.
Kami begitu lega. Keinginan kami telah terlaksana. Doa kami telah terkabul. Pikiran kami melayang pada seorang pengemis tua yang telah mendoakan kami, juga pada seorang nenek tua penjual telur ayam kampung, yang telah mendoakan kami, hanya karena kami berikan sedikit uang lebih. Bisa jadi, rejeki ini diberikan Allah kepada kami, karena doa yang mereka lantunkan. Wallahua’lam.

(Aan Wulandari U, diansya2@gmail.com)

PARADOKS PEMAHAMAN SEKULER-LIBERAL

PARADOKS PEMAHAMAN SEKULER-LIBERAL

Dari Facebook-nya Sandrina Malakiano Fatah Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di belakangnya sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Saya sendiri yakin bahwa " sebagaimana Islam mengajarkan " di balik kebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan. Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya bekerja, Metro TV. Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasa pintu memang sudah ditutup.
Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang tinggi. Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama proses negosiasi berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperoleh penghasilan, tapi dengan status yang tetap terikat pada institusi Metro TV. Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada sinar di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri. Pengunduran diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya buat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai reporter dan presenter berita serta kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudah menggeluti pekerjaan yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar, ANTV, sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV internasional, TVRI Pusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya kehilangan pekerjaan itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya. Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa ALLAH akan memberi saya yang terbaik dan bahwa dunia tak selebar daun Metro TV, saya bergeming dengan keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akan mendapat berkah dari-Nya.

HIKMAH BERJILBAB
Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu saya terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah sakit. Saya tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro TV, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di rumah sakit hingga ALLAH memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu. Bagaimana mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawat inap biasa, menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari di ruang ICU, dan kemudian 17 hari di ruang ICCU? Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya mendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik. Kesempatan ini datang antara lain melalui beragam acara bercorak keagamaan yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV sendiri memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak untuk menjadi host dalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan.
Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para profesor di acara Ensiklopedi Al Quran selama Ramadhan tahun lalu, misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman baru tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif, dalam bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu Islam yang hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia, mengagungkan ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadap kemajemukan, dan melindungi minoritas. Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berIslam secara baik dan mendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan, bukanlah sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang kesucian. Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilih kenyamanan hidup.
Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada akhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan personal orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian seminim yang ia mau atas nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena sebab itu, wajar saja jika saya menuntut penghormatan serupa dari siapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab. Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme bisa tumbuh di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut puritan. Ia juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku dirinya sekuler-liberal dalam berIslam.
Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro TV, saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle " seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai sahabat, mentor, bahkan kadang-kadang orang tua " di sebuah lembaga nirlaba. Di sana kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yang dikenali publik sebagai tokoh-tokoh sekuler-liberal dalam berIslam. Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan saya berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan sejumlah komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan Metro TV untuk melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satu komentar mereka yang masih lekat dalam ingatan saya adalah, Kamu tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang benar. Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara diametral dengan gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu pembebasan manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang di tengah kemajemukan.
Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang dimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana mereka tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan berpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga semestinya membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh hak setara? Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan kepala yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsung meredup dan otaknya mengkeret mengecil?
Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme" mungkin dalam bentuknya yang lebih berbahaya " ternyata bisa bersemayam di kepala orang-orang yang mengaku sekuler-liberal












Misteri

Teknologi

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Abi Zikri - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger