September 2010 - Abi Zikri
Headlines News :

Konsolidasi Umat dan Urgensi TV-Islam

Written By Sjam Deddy on Rabu, 29 September 2010 | 18.24


Bulan-bulan terakhir ini kita sangat prihatin dengan kelakuan media massa yang mengidap Islamophobia yang memaksakan opini issue toleransi dan kebebasan beragama. Opini itu menuduh seolah-olah umat Islam anti toleransi dan anti kebebasan beragama. Tuduhan ini jelas salah dan jauh dari fakta yang sebenarnya.

Faktanya justru selama ini umat Islam terlalu toleran. Sekalipun umat Islam Indonesia merupakan mayoritas mutlak di Indonesia, hampir 90%, namun terbukti tidak pernah memaksakan kehendak dan aspirasinya kepada kelompok lain. Bahkan penghargaan kepada kelompok-kelompok minoritas yang dibuat berdasarkan keputusan pemerintah, tidak pernah ditentangnya. Mulai dari dicoretnya 7 kata dalam Piagam Jakarta yang menghapuskan pelaksanaan syariat Islam oleh negara yang diberlakukan walau hanya khusus untuk umat Islam hingga masalah hak libur Nasrani yang diberikan hampir setara penganut Islam.

Toleransi yang begitu besar itu tidak pernah diberikan oleh keompok mayoritas di negara manapun, termasuk negara kampiun demokrasi nomor satu di dunia, AS.

Namun semakin ke sini, sikap kaum minoritas semakin ngelunjak. Dengan jaringan politik dan media massa yang mereka miliki, kasus HKBP mereka blow up sedemikian rupa sehingga menjadi serangan opini dan politik yang menyakitkan umat Islam. HKBP terzalimi di saat Idul Fitri, umat Islam anarkis dan sadis. Umat Islam criminal dan harus ditangkap, PBM nomor 8/9 tahun 2006 sebagai biangkerok yang mengekang kebebasan beragama harus dicabut.

Pemberitaan yang memutar balikkan fakta dan merupakan serangan massif dan sampai taraf keterlaluan yang dilakukan media-media pengidap penyakit Islamophobia membuat siapapun muslim yang peduli kepada kehormatan Islam dan umatnya akan merasa muak!

Anehnya pemberitaan mereka tidak ada cover both side yang menyeimbangkan berita. Bahkan dua kali aksi besar umat Islam yang melibatkan tokoh dan massa ribuan umat Islam menolak arogansi HKBP, yakni di Bekasi (Jumat, 17 september 2010) dan di Jakarta (Jumat, 24 September 2010) tidak mereka siarkan. Padahal aksi gerombolan liberal dan anak-anak Kristen yang jumlahnya hanya sekitar seratus orang mereka blow up!

Sepertinya ada konspirasi untuk membungkam umat Islam. Sehingga, umat Islam tentunya bertanya-tanya apa sesungguhnya yang terjadi di negeri yang mayoritas muslim ini?

Sikap tidak adil media ini mengingatkan saya pada konferensi pers yang digelar FUI di kantor MER-C beberapa waktu lalu untuk mengungkap kasus pembagian uang dan al Kitab (Injil) oleh misionaris dari AS kepada rakyat muslim yang sedang tertimpa musibah di Padang Pariaman pada pasca gempa yang jelas-jelas merupakan pelanggaran terhadap SKB Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri nomor 1 tahun 1979 tetang tata cara penyiaran agama. Mereka tak mau menyiarkan walaupun dari segi berita, tentu itu sangat akurat, karena kita putarkan film rekaman peristiwa tersebut. Di sinilah kita yakin bahwa tidak ada pers yang tidak memihak.

Oleh karena itu, ketika menghadiri undangan silaturrahmi halal-bihalal di kantor Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) pusat, tatkala Ketua Umum DDII, KH. Syuhada Bachri, dengan senyum prihatin mengatakan wah acara kita gak ditayangkan, saya katakan kepada beliau itulah kalau kita ga punya TV sendiri.

Maka dari perbincangan saya dengan salah seorang pengurus DDII dan Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini, saat beramah-tamah dalam acara tersebut tercetus tekad untuk mendirikan TV-Islam. Keinginan ini memang sudah lama ada, dan usulan- usulan seperti itu juga sudah banyak kita dengar dan juga disampaikan oleh pembaca Suara Islam. Namun perkembangan akhir-akhir ini memang mengharuskan kita untuk punya TV-Islam.

Oleh karena itu, saat menyampaikan taushiyah Halal-Bihalal FPI Wilayah Bekasi di Islamic Center Bekasi pada hari Ahad, 26 September 2010 lalu, beberapa jam setelah silaturrahmi di DDII tersebut, saya lontarkan ide untuk mendirikan TV-Islam itu kepada massa umat dan disambut dengan antusias.

Dan alhamdulillah Ketum DPP-FPI Al Habib Muhammad Rizieq Syihab yang juga hadir dan memberi taushiyah menyambut baik ide untuk segera mendirikan TV-Islam tersebut bahkan bersedia menjadi bintang iklan untuk mengajak umat mewujudkan ide mulia itu.

Mudah-mudahan dengan upaya mendirikan TV-Islam, proses konsolidasi umat, baik dari segi konsolidasi aqidah dan pemikiran umat, konsolidasi tsaqafah dan ma’arif Islamiyah umat, konsolidasi perasaan berjamaah dan ukhuwah Islamiyyah umat, serta konsolidasi gerak dan langkah siyasah umat bisa dibangun dengan lebih baik. Tegur sapa dan sumbangan pemikiran serta hal-hal lain yang berkontribusi untuk menyempurnakan konsolidasi umat sangat kami tunggu.

Wallahu ghaalibun ala amrihi walaakinna aktsaran naasi laa ya’lamuun!

sumber : http://www.voa-islam.com/lintasberita/suaraislam/2010/09/29/10474/konsolidasi-umat-dan-urgensi-tvislam/

posted by Dd

DAHSYATNYA KEMATIAN

Written By Sjam Deddy on Sabtu, 04 September 2010 | 08.29



Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang tuan-tuan tangisi boleh berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada tuan-tuan, niscaya tuan-tuan akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri tuan-tuan sendiri”. (Imam Ghazali mengutip atsar Al-Hasan).



Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an :



1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan risiko-risiko kematian.

Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154)



2. Kematian akan mengejar siapapun

Meskipun ia berlindung di balik benteng yang kukuh atau berlindung di sebalik teknologi kedoktoran yang canggih serta ratusan doktor terbaik yang ada di muka bumi ini.

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, meskipun pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kukuh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS An-Nisa 4:7 8)

3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar.

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembali kan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62: 8)



4. Kematian datang secara tiba-tiba.

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)



5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al-Munafiqun, 63:11)

Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut

Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)

Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menucuk di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bahagian kain sutera yang terobek ?” (HR Bukhari)



Pendapat para sahabat Rasulullah SAW .

Ka’b al-Ahbar r.a berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itu pun membawa semua bahagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa itu”.

Imam Ghazali rah, berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut meruntum jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bahagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerai-ceraikan dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.

Imam Ghazali rah juga mengambil satu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka boleh mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang wanita yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia !”, kata wanita tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.”

Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeza untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran masa seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang.

Rasa sakit sakaratul maut akan di alami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkatan rasa sakit, ini tidak berkait dengan tingkatan keimanan atau kezaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak.

Hati hati berbuka dengan yg manis

Written By Sjam Deddy on Jumat, 03 September 2010 | 19.12

JAKARTA, KOMPAS.com — Berbuka puasa dengan yang manis memang dianjurkan. Namun, perlu diingat, berbuka dengan yang manis hanya ditujukan untuk mengembalikan tenaga bukan mengenyangkan.



Terlalu banyak mengonsumsi makanan manis saat berbuka, menurut ahli gizi klinik dari RS Pondok Indah, Dr Lanny Ch Salim, MS, SpGK, tidaklah baik. Ini dapat menimbulkan rasa kenyang sehingga mengurangi konsumsi makanan berat seperti nasi.



"Tujuan awal makan manis sebelum berbuka untuk dapat energi dulu, menggantikan kalori yang hilang setelah lebih dari 14 jam berpuasa," tuturnya.



Makan berat tidak boleh sampai berlebih karena pengaruhnya pada lambung. Menurut Dr Lanny, ini bisa membuat lambung bekerja setengah mati karena terlalu dibiarkan lama kosong.



Dirinya menyarankan, sebaiknya berbukalah dengan minuman hangat, contohnya teh manis. Setelah itu orang bebas makan apa saja, tetapi tetap diperhatikan jumlahnya, apalagi kondisi tubuhnya bukan seperti orang normal.



Untuk kurma yang dipercaya sebagai pengganti kalori itu sangat tepat karena kurma mengandung karbohidrat kompleks yang mampu meningkatkan produksi insulin penghasil glukosa dalam tubuh.



Namun, ada kecenderungan saat berbuka orang langsung mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula dalam jumlah banyak dan inilah yang mesti dihindari, terutama untuk mereka yang menderita diabetes.



"Ingat, yang terpenting makan manis saat berbuka itu tujuan awalnya untuk mendapatkan energi dulu," serunya.



sumber : forbes

Tentang Kitman (Menyembunyikan) dan Sirriyah (kerahasiaan)

Written By Sjam Deddy on Rabu, 01 September 2010 | 01.58

Jamaah ini bukan sesuatu yang rahasia dan tertutup, namun adalah sebuah barisan yang saling bertautan erat, bersatu dan saling mengasihi, yang setiap individunya hidup bersama yang lain dan saling mengunjungi, dan saling memikul beban satu sama lain.

Jamaah ini bukan pula sebuah kelompok rahasia yang masing-masing individunya tidak mengenal individu yang lain kecuali tugasnya. Prinsip jamaah ini adalah saling hidup bersama dan saling mengenal antara labinah (batu bata) dalam barisan dakwah, yang saling bertaut, yang komitmennya yang paling rendah adalah salamatul Shadr (lapang dada), dan yang paling tinggi adalah al ‘Itsar (mendahulukan kepentingan saudaranya dari kepentingannya sendiri).

Imam Syahid berkata, “Kenalilah siapa saja yang engkau temui dari saudara-saudaramu.”

“Hendaklah sebagian dari kalian memikul beban sebagian yang lain. Demikian itulah fenomena iman dan intisari ukhuwah. Hendaklah sebagian dari kalian senantiasa bertanya kepada sebagian yang lain (tentang kondisi kehidupannya). Jika didapatkan padanya kesulitan, segeralah memberikan pertolongan selama ada jalan untuk itu.”

“Hendaklah selalu ada ikatan ruh dan amal dengan qiyadah.”

“Dan hendaklah ia mengenal dan mengetahui seluruh kondisinya, serta yakin kepada pemimpinnya dan seluruh kemampuan dan keikhlasan yang dimilikinya, yang kemudian melahirkan rasa cinta, penghormatan dan ketaatan.”

“Hendaklah engkau mengetahui anggota katibahmu satu persatu dengan pengetahuan yang lengkap, juga kenalkan dirimu kepeda mereka dengan selengkapnya.”

Hal ini tidak bertolak belakang dengan mainstream dan prinsip harakah, serta konsentrasinya untuk mendalami pengetahuan yang khusus dan bermanfaat untuknya. Rasulullah Saw. bersabda:

من حسن إسلام المرء تركه مالايعنيه

“Diantara tanda baiknya keIslaman seseorang adalah meninggalkan apa saja yang tidak bermanfaat baginya.”

Termasuk menjaga lisan dan menyimpan amanah majlis. Ini semua termasuk adab-adab Islam dan akhlaknya, dan merupakan kewajiban jamaah dan kerapian shaf dakwah.

Terdapat perbedaan besar antara kerahasiaan gerakan dan kerahasiaan prinsip dalam dakwah. Di dalam dakwah tidak ada rahasia atau sesuatu yang disembunyikan, atau terdapat prinsip-prinsip yang dipublikasikan dan ada prinsip yang disembunyikan. Sesungguhnya dakwah, -yang berlandaskankan manhaj Islam- prinsip-prinsipnya disampaikan secara terbuka, target-target, visi dan misinya disampaikan, fase dan tahapan-tahapan dakwahnya telah ditetapkan dan diketahui, risalah dan selebaran-selebarannya diumumkan, kader dan tokoh-tokohnya hidup dan berbaur dengan masyarakat, dan mereka memiliki izzah dengan dakwah yang mereka ikuti, kegiatan dan aktivitas mereka di tengah masyarakat terbuka dan dapat diketahui, mereka ada di mesjid-mesjid, lembaga-lembaga sosial, bersama masyarakat di setiap tempat dan waktu, dan mereka juga melakukan perjuangan konstitusi dan aktivitas politik.

Adapun penutupan beberapa sisi dalam strategi gerakan di barisan dakwah, maka hal itu lebih kepada upaya memproteksi dakwah akibat tekanan dan konspirasi musuh-musuh Allah, dan ini sesuai dengan sunnah Rasulullah Saw.:

اسْتَعِينُوا عَلَى إِنْجَاحِ الْحَوَائِجِ بِالْكِتْمَانِ، فَإِنَّ كُلَّ ذِي نِعْمَةٍ مَحْسُودٌ

Jadikanlah kitman (upaya untuk menutupi sesuatu) sebagai penolong dalam memenuhi beberapa kebutuhan kalian, karena setiap kenikmatan itu pasti adalah yang mendengkinya.”

Yang Tsabit (prinsipil) dan Mutagayyir (relatif) dalam dakwah

Sesungguhnya dakwah memiliki keistimewaan dengan prinsip-prinsipnya dan tujuannya yang tetap, sejak awal mula kelahiran dakwah. Jadi tidak benar pendapat orang yang mengatakan bahwa dakwah ini awal mula lahir sebagai gerakan dakwah tasawuf dan akhlak, kemudian berubah menjadi gerakan politik.

Universalitas dakwah dan kesempurnaannya telah ditetapkan, jelas dan dideklarasikan sejak dakwah ini diserukan. Risalah-risalah Imam Syahid; dari risalah yang pertama hingga risalah yang terakhir yang disampaikan kepada Ikhwan memiliki manhaj dan prinsip yang sama, dan hal ini tidak bertentangan dengan hakikat bahwa strategi dakwah dalam melaksanakan dan menerapkan memiliki tahapan dan fase-fase tertentu sebagaimana yang dijelaskan dan diarahkan oleh Imam Syahid.

Imam Syahid berkata dalam Muktamar Para Pemimpin Wilayah dakwah pada tahun 1945 M:

“Telah ditetapkan kepada kalian asas pertama dakwah sejak bulan Dzulqa’dah 1347 H/1928 M), dan kalian akan terus memegang teguh dan tegar hingga Allah mewujudkan janji-Nya –insya Allah-.”

Sesungguhnya prinsip-prinsip jamaah adalah prinsip-prinsip Islam itu sendiri, engkau tidak bisa menyimpangkannya. Jamaah dakwah, harus memegang teguh prinsip-prinsip yang khusus baginya dalam gerakan dan pengorganisasian, dan ia memiliki dasar pijakan yang berlandaskan kepada syariat Allah. Sementara sarana-sarana dakwah akan terus berubah dan berkembang sesuai dengan kondisi dan keadaan.

“Untuk itu kami harus menegaskan lagi bahwa, sesungguhnya tarbiyah, dakwah dan jamaah yang terorganisir, merupakan prinsip dan ketetapan yang tidak akan berubah. Meskipun sarana-sarana dakwah dan aktivitas-aktivitas yang menyokong misi dakwah semakin berkembang, namun dakwah tetap berada dalam prinsip dan poros yang tidak berubah.

Perubahan dan inovasi pada sarana dan kegiatan-kegiatan dakwah memiliki batasan-batasan dan prinsip yang harus dipenuhi serta melalui institusi-institusi jamaah yang menetapkan syura dan nota-nota kesepakatan.

Tentang Rasa Kepemilikan Terhadap Islam

Jamaah tidak memonopoli sifat Islam untuk dirinya semata, dan menapikannya dari kelompok-kelompok yang lain, karena ia bukan jama’atul al Muslimin (kelompok kaum muslimin) yang siapa saja meninggalkan dan berbeda dengannya maka telah keluar dari agama Islam, namun ia merupakan jama’atul minal muslimin (sebuah kelompok dari kaum muslimin) yang berdiri demi mewujudkan tujuan-tujuan Islam sesuai dengan ideologi dan manhaj yang berlandaskan Al Quran dan Sunnah, sebagaimana yang dipahami dan diyakini sebagai jalan yang benar dan tidak ada jalan yang lain. Jamaah tidak menetapkan sebuah hukum (ketetapan) terhadap orang lain, hanya Allah semata yang berhak menetapkan hukuman terhadap mereka. “Kami adalah para da’I, dan bukan hakim yang menghukumi.”

Jamaah tidak berdiri di atas mazhab tertentu, namun ia terbuka untuk yang lain sesuai dengan pemahaman Islam yang komprehensif dan mengajak kepadanya, dan mengajak untuk bekerjasama untuk mengembalikan kemulian umat Islam dan mewujudkan tujuan-tujuan Islam seluruhnya.

Hujjah

Jamaah dan prinsip-prinsipnya merupakan hujjah bagi kader-kader dakwah, dan bukan kader yang menjadi hujjah baginya. Sejauhmana sesesorang mengambil dan menerapkan nilai-nilai dakwah dan tarbiyah, serta ketaatannya terhadap prinsip-prinsip dakwah, maka sebesar itu pula ia berperan sebagai representasi dakwah ini, walaupun ia sebagai prajurit dakwah yang berada di akhir barisan.

Imam Syahid berkata, “Ada beberapa orang yang ada di barisan kami, namun sesungguhnya ia tidak bersama kami, dan ada beberapa orang yang tidak berada di barisan kami, namun ia bersama kami.”

Beliau juga berkata tentang kewajiban dakwah dan ajaran-ajarannya:

“Cengkeramlah dengan sungguh-sungguh bimbingan-bimbingan ini. Jika tidak maka dalam barisan orang-orang yang duduk dan para pemalas masih terdapat kursi-kursi yang kosong.”

“Saya yakin, jika engkau mengetahuinya dengan baik dan engkau menjadikannya sebagai cita-cita dan orientasi hidupmu, maka balasanmu adalah kehormatan hidup di dunia dan kebajikan serta ridha di akhirat. Engkau bagian dari kami dan kami bagian dari dirimu. Jika engkau berpaling darinya lalu duduk-duduk santai saja, maka tiada lagi hubungan antara kita. Jika engkau seseorang yang biasa berada di depan majelis kita, di pundakmu tertempel gelar-gelar mentereng, dan kau tampak begitu menonjol di antara kita, maka dudukmu akan dihisab Allah dengan seberat-beratnya hisab.”

Jadi yang merepresentasikan jamaah dan menyampaikan sikap-sikapnya secara langsung, adalah qiyadah (pemimpin) tertinggi, yang disebut Mursyid ‘am, atau siapa yang dipercayakan sebagai juru bicara atas nama jamaah dan menyampaikan pandangan-pandangannya. Adapun individu dalam jamaah dakwah dan siapa saja yang bergabung dengan jamaah ini, -dengan tetap berada dalam satu kesatuan dan ideologi yang sama-, maka setiap orang berhak memiliki pandangan, ijtihad, dan interpretasi dalam pemikiran dan dakwah Islam, selama tidak keluar dari batasa-batasan syariat, prinsip dan sikap-sikap jamaah.

Misteri

Teknologi

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Abi Zikri - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger